Tampilkan postingan dengan label 3S. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3S. Tampilkan semua postingan

09 Desember 2010

Tadzkiroh...

Kaifa haluki, Sholihat???
Sudah bersyukur hari ini??

Ingat, sholihat... semua yang ada padamu kini hanyalah TITIPAN yang cepat atau lambat akan diambil kembali oleh Si Empunya.

Bisa jadi ia hadir sebagai AMANAH yang harus kau jaga dengan baik, sebab kau akan dimintai pertanggung jawaban atasnya...

Bisa jadi ia hadir dalam bentuk UJIAN (kesulitan maupun kemudahan) yang harus kau ‘garap’ seoptimal mungkin, agar kau bisa lulus dan beranjak ke tingkat berikutnya...

Yakinlah bahwa setiap amanah maupun ujian yang kau jalani kini pasti 'kan mampu kau tuntaskan.
Bukankah janji Allah itu pasti? Ia tidak akan memberikan beban diatas kemampuan hamba-Nya. Dan Ia-pun menjanjikan adanya kemudahan setelah kesulitan yang menghadang.

Laa takhof walaa tahzan, innallaaha maa’anna...

Tetap jalani hidup dengan SENYUM, SABAR, dan SYUKUR...

Jadikan RIDHO dan KHUSNUDHON atas segala rencana Allah sebagai bekalmu menuai ridho dan barokah-Nya...

kemudian lihatlah, semua ‘kan indah pada waktunya...


24 Januari 2010

Segores Pengingat dan Penyemangat


apa yang baik menurut pandangan manusia belum tentu yg terbaik menurut ALlah...


Subhanallah....
Setiap apa yang 'diucapkan'-Nya, tiada pernah tidak terbukti!!!

Manusia selalu punya rencana...
Manusia tentunya telah berusaha...
Do'a dan tawakkal pun teriring bersama dua perkara sebelumnya...

Namun jika ternyata Ia berkehendak lain, adakah kemudian Ia dholim???
TENTU TIDAK!!!

Yakinlah bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi kita, paling tidak untuk saat ini...
Yakinlah bahwa skenario buatan-Nya adalah yang terbaik bagi kita, meski kadang terasa berat diri ini menjalaninya...

Teringat dulu ketika 'kita-kecil' tengah pilek, lalu ada penjual es lewat. Rengekan manja, bahkan tangisan pilu 'kita-kecil' ternyata sama sekali tidak membuat ibu meng-iya-kan permintaan 'kita-kecil' untuk minum es yg sedemikian nikmat itu. ngambek... sedih... kecewa... Yah, itu respon yang normal...
Tapi belakangan baru kita tahu bahwa TERNYATA ketika ibu tidak memenuhi keinginan kita dan -nampaknya- tidak mempedulikan perasaan kita saat itu, tak lain adalah untuk menjaga kita... agar sakit kita tidak bertambah parah... (hmmm...)

Demikian pula dengan yang ALlah lakukan...
Ketika tiba-tiba Ia "menyentakkan hati" kita,,,
tiada lain hanyalah untuk menjaga kita agar tetap berada di jalan-Nya...
agar kita tetap berfokus pada apa yang seharusnya kita fokuskan...
agar kotoran yg menyelimuti hati kita meluruh oleh sentakan itu sehingga hati kita jadi 'cling' kembali... ^^


Wahai manusia...

Kita tak tahu yang terjadi itu berkah atau musibah, yang bisa kita lakukan adalah ber-khusnudhon pada Allah...
Terus jalani hidup dengan Senyum, Sabar, dan Syukur...
Satu lagi, pertahankan sikap OPTIMIS dan REALISTIS...

11 November 2009

Syukur


Makna sebuah titipan


Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

[WS Rendra]


>>>> itu makna 'titipan' bagi seorang "burung merak"....Lalu bagaimana dengan kita???? Sudahkah kita bijak memperlakukan 'titipan'-Nya???




SYUKUR...


Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dikenal sebagai abdan syakuura (hamba Allah yang banyak bersyukur). Setiap langkah dan tindakan beliau merupakan perwujudan rasa syukurnya kepada Allah.

Abu Hurairah Radhiallaahu anhu menceritakan: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam biasa mengerjakan shalat malam hingga membengkak kedua telapak kakinya. Ada yang bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, mengapa Anda melakukan sedemikian itu, bukankah Allah telah mengampuni segala dosa Anda yang lalu maupun yang akan datang?” beliau menjawab: “Bukankah selayaknya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?” (HR. Ibnu Majah).

Kalau Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam sendiri sebagai orang yang ma'sum atau terpelihara dari dosa saja merasa takut tidak termasuk kedalam golongan orang-orang yang bersyukur, apakah lalu kita yang berlumuran dosa ini tidak merasa malu untuk menerima pemberian-Nya tanpa mau bersyukur kapada-Nya? Sebagai orang mukmin kita tentu tidak ingin mengabaikan perintah Allah, sebagai mana tersirat dalam Al-Qur'an Surat An-Nahl;144, yang artinya "Bersyukurlah terhadap nikmat Allah, jika kamu sungguh-sungguh menyembah kepada-Nya".

Adapun tentang cara-cara bersyukur itu ada tiga macam, yaitu:

  1. bersyukur dengan hati. Maksudnya, ia merasa yakin bahwa segala macam kenikmatan itu datangnya dari Allah.

  2. "Dan apa saja ni'mat yang ada padamu, maka dari Allahlah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemadhorotan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan".(Al-Nahl:53)


  3. Bersyukur dengan lisan. Maksudnya dengan memperbanyak bacaan Hamdalah (Al-Hamdulillah).

  4. "Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebutkannya (bersyukur)".(Adh-Dhuhaa:11)


  5. Bersyukur dengan semua anggota badan. cukup dengan meletakkan nikmat Allah secara 4S ( Sesuai dengan fungsi, Sesuai lokasi, Sesuai situasi, Secara optimal)




Suatu ketika Nabi memengang tangan Muadz bin Jabal dengan mesra seraya berkata :
"Hai Muadz, demi Allah sesungguhnya aku amat menyayangimu". Beliau melanjutkan sabdanya, "Wahai Muadz, aku berpesan, janganlah kamu tinggalkan pada tiap-tiap sehabis shalat berdo'a : Allahumma a'innii `alaa dzikrika wa syukrika wa husni `ibaadatika (Ya Allah,tolonglah aku agar senantiasa ingat kepada-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan baik dalam beribadat kepada-Mu)".

Wallahu a'lam...


-dari berbagai sumber-

23 Februari 2009

Sebuah renungan tentang Takdir


Bukan kita yang memilih takdir, Takdirlah yang memilih kita.
Bagaimanapun, takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkannya di saat yang paling tepat.

-Salahuddin al Ayyubi-


Tak jarang terdengar ungkapan putus asa dari bibir makhluk yang diciptakan dengan sedemikian banyak kelebihan. Ungkapan-ungkapan itu meluncur begitu saja mengiringi suatu kejadian yang tak diharapkan terjadi. Ujung dari semua itu, hilangnya segala rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Dan yang biasa dijadikan apologi adalah ia yang bergelar takdir...

Sesungguhnya, apa yang disebut dengan takdir??

Takdir adalah suatu ketetapan akan garis kehidupan seseorang. Setiap orang lahir lengkap dengan skenario perjalanan kehidupannya dari awal hingga akhir. Hal ini dinyatakan dalam Qur'an bahwa segala sesuatu yang terjadi terhadap diri seorang sudah tertulis dalam lauhul mahfudz. Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Allah yang harus diimani. Secara sederhana takdir didefinisikan sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.

Untuk memahami konsep takdir, umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir. Kedua dimensi yang dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan.
  • Dimensi ketuhanan
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.


  • Dimensi kemanusiaan
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang meginformasikan bahwa Allah memperintahkan manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang dipilihnya.


Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manusia hanya tahu takdirnya setelah terjadi.

Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, Allah telah meperintahkan untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya, seperti termaktub dalam QS. Ar-ra'du : 11 yang artinya "... sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...".


Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinialianya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga (Al Hadiid QS. 57:23).

Kesimpulannya, karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah.


wallahu a'lam...

21 Februari 2009

Laa tahzan...

Belum lama ini ada sms masuk ke ponsel saya. Begini bunyinya : "betapa Allah ingin selalu membahagiakan kita,, di setiap kegundahan seolah Ia berkata: Tenanglah, teguhlah dan optimislah! karena di penghujung setiap malam, ada pagi yang cerah. Di balik setiap bukit ada taman. Di balik batu besar ada mata air yang sejuk. Setelah perjalanan jauh, ada sungai yang mengalir. Dan setelah kelelahan, ada tidur yang tenang, lelap, dan melapangkan..."

Allahuakbar!!!
Betapa Allah maha tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya...

Ditengah panasnya hati dan pikiran ini,,, tiba-tiba ada mata air sejuk memancar, mendinginkan suasana hati dan pikiran yang tengah membara.
Melalui perantara seorang saudara yang sama-sama sedang mendaki menuju puncak prestasi...

Dunia ini memang diciptakan dengan amat sempurna oleh Allah... Ia ciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan,, berputar silih berganti,, sehingga semua makhluk merasakan apa yang dirasakan makhluk lainnya... Sehingga manusia bisa belajar dan mengambil ibroh dari apa yang terjadi.

Setiap awal,, tentu akan datang akhir...
Setiap ada panas,, tentu akan hadir dingin...
dan setiap kesulitan,, tentulah akan diikuti dengan kemudahan...

Yakinlah itu wahai saudaraku...
Jika kau telah mengusahakan sesuatu dengan optimal,,, diiringi dengan lantunan doa yang tiada terputus,,, maka bertawakal-lah...
Sebab area hasil itu adalah hak prerogatif-Nya...

Jadi,,, teruslah berlari...
Kejar apa yang ingin kau raih...
Jangan hiraukan aral rintangan yang menghalangi jalanmu...
Jangan pernah biarkan rasa lemah dan takut menguasaimu...
Sebab kau dilahirkan sebagai pemenang...
Karena kau dilahirkan untuk terus berjuang...
Biarlah tetesan darah, keringat, dan air mata menghiasi hari-harimu...
Kemenangan dan kebahagiaan telah menunggumu di depan sana....

Laa tahzan,, walaa ta khouf... Innallaha ma'anna...