Tampilkan postingan dengan label refresh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refresh. Tampilkan semua postingan

11 Maret 2011

ngeTES Otak...??

Perhatikan gambar di bawah ini....
Apakah Anda melihat penari tersebut berputar searah jarum jam? Ataukah malah sebaliknya?

Biar gerak, klik gambar di atas.. ^_^


Tes ini saya ambil dari situs The Daily Telegraph, sebuah test yang menguji otak mana yang sedang kita gunakan.. Dari sini pun, bisa kita ketahui bagian otak mana yang lebih dominan (kanan ato kiri)...


So... Apa yang tertangkap oleh indera penglihatan Anda?
muter searah jarum jam, atau berlawanan arah jarum jam?? ^_^

13 Februari 2011

Wasiat Pohon Pisang

Bismillah

Tak lama setelah mem-posting tulisan berjudul "Tumbuh itu ke atas, bukan ke samping!! SURE??", ada pertanyaan dari seorang kawan yang memantik saya untuk mencari tahu lebih banyak tentang berbagai macam tumbuhan. ^_^
"pohon pisang langsung tumbuhnya ke samping (tunas) sebelum dia sendiri matang...gimana tuh?", tanya kawan saya.

hmm... saya menangkap maksudnya. Yang dia maksud dalam pertanyaan tersebut sesungguhnya bukan tentang 'tumbuh', melainkan tentang 'perkembang biak'. (hehe, mengingat pelajaran semasa SD)
Awalnya saya mau nge-les dengan menjawab, "di sini kita bicara tentang tumbuh, bukan berkembang biak...". Tapi kemudian saya urungkan. Saya malah tertarik untuk mencari tahu karakter si pohon pisang. Dalam benak saya bertanya-tanya, "memangnya kapan sih, pohon pisang itu menumbuhkan tunas? sebelum berbuah, pas berbuah, setelah berbuah, atau setelah mati?". (maklum, nggak pernah melakukan pengamatan siiih...)

Baiklah.. Mari kita coba 'membaca' karakteristik dari pohon pisang.

Pohon pisang itu termasuk pohon yang 'tidak rewel' alias gampang pemeliharaannya. Ia mudah tumbuh di manapun, yang penting cukup air. Tumbuhnya pun tak pernah sendiri. Selalu kita jumpai beberapa batang pohon dalam satu area. Jika kita dalami maknanya (filsuf MODE : ON), dalam hidup itu jangan suka mempersulit (diri & orang lain). Di samping itu, sebagai makhluk sosial kita tidak akan pernah bisa hidup sendiri. Jadi, biasakan diri untuk terus berbagi.

Setiap bagian dari pohon pisang memiliki manfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Akar (bonggol), pelepah, daun, jantung, serta buahnya bisa digunakan untuk berbagai macam keperluan. Silakan saja anda buat daftar kegunaan pohon pisang... Selembar kertas nampaknya tidak akan cukup untuk menuliskan seluruh kegunaannya. (lebay dikit aah..) ^_^v. Pelajaran yang bisa kita ambil dari sini adalah 'jadilah orang yang bermanfaat untuk orang lain'.

Ada lagi yang unik dari pohon pisang...
Pohon pisang itu tidak akan 'mau' mati sebelum berbuah. Pun ketika batangnya sudah ditebas, ia akan tetap menghasilkan buah (jika selama hidup ia belum berbuah). Hal ini bermakna, pantang berhenti sebelum ada hasil.

Kemudian, jika kita cermati dengan seksama, setiap pohon pisang sebelum berbuah dan dipanen telah terlebih dulu menyiapkan tunasnya. Penyiapan tersebut tidak memerlukan waktu yang lama karena tunas pohon pisang tak harus menunggu biji dari buahnya. Tunas tersebut tumbuh dari batang sesungguhnya yang terletak pada bagian pangkal batang (bonggol).Yups.. pohon pisang itu berkembang biak secara vegetatif (dengan tunas) maupun generatif (dengan biji, tidak banyak terjadi).
Dari karakteristik yang satu ini bisa kita ambil pelajaran bahwa regenerasi itu sangat penting untuk menjaga keberlanjutan -spesies- kita. Dan proses tersebut hendaknya dimulai sejak dini, tak perlu menunggu sampai kita menghasilkan suatu pencapaian atau meraih prestasi yang tinggi.

Subhanallah... 
Ternyata banyak yang bisa kita pelajari dari pohon pisang. Menjadi individu yang bermanfaat untuk orang lain dan lingkungan, tanpa mempersulit diri. Menjadi sosok pekerja keras yang pantang menyerah. Menjadi manusia yang berpandangan jauh ke depan dan melakukan kaderisasi secara berkesinambungan. Semua itu bukan hal yang tak mungkin dilakukan.

Jadi, jangan mau kalah sama pohon pisang...


gambarnya nemu di sini

11 Februari 2011

Tumbuh itu ke atas, bukan ke samping!! SURE???

Bismillah

"Tumbuh itu ke atas, bukan ke samping..."
aah.. itu mah jargon aja, biar produk yang memakai jargon tersebut laris manis di pasaran. Iya pa iya???
Well, saya tidak sepakat dengan pernyataan tersebut. Kenapa?

Oke, saya ajak anda berjalan-jalan ke negeri Panda...

Di daratan Cina, ada seorang petani yang punya tanaman peliharaan (kok kaya 'pet' ya? >.<"), namanya Bambu Cina (Bambusa multiplex. sp). Dua kali sehari, setiap pagi sebelum matahari terbit dan sore hari sesudah matahari terbenam, si petani bambu Cina harus menyiram bibit bambu cina yang ditanam di gundukan-gundukan kecil tanah di pekarangan rumahnya. Selama 6 tahun pertama, setiap hari, penyiraman harus dilakukan dengan setia, kalau tidak maka tanaman ini tidak akan pernah tumbuh dan pasti mati. Jadi tidak ada hari-hari absen untuk menyiram atau tanaman ini akan mati dan tidak pernah tumbuh. Maka si petani ini melakukan kewajibannya dengan setia selama 6 tahun pertama kehidupan si tanaman bambu Cina. Ia mengasihi tanaman ini dan sungguh-sungguh percaya, suatu hari ia akan bangga dengan tanamannya.

Banyak orang yang menganggap betapa si petani bambu Cina ini sudah gila. Ia terus menyiram gundukan-gundukan tanah kosong. Memang sih, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang keluar dari sini. Selama 6 tahun pertama, tidak ada yang terlihat tumbuh dari permukaan tanah tersebut. Malahan, rumput dan gulma yang nampak tumbuh subur. Akan tetapi, sesudah tahun ke 6 berakhir muncullah tunas dari tanaman bambu Cina. Selama beberapa minggu, pertumbuhannya hanya beberapa centimeter saja. Namun dalam waktu 6 bulan, tanaman bambu Cina ini telah mempunyai ketinggian mencapai 5-6 meter, jauh lebih tinggi dari tanaman di sekitarnya. Amazing!!!


Jadi, apa yang sesungguhnya terjadi selama 6 tahun pertama kehidupan si bambu Cina?

Ternyata... ia bukannya tidak mengalami pertumbuhan, hanya saja kita memang tidak melihat pertumbuhannya secara kasat mata. Fokus pertumbuhan pohon bambu cina pada waktu tersebut adalah pada akar, bukan pada batang. Pohon bambu cina sedang menyiapkan pondasi yang kuat agar ia bisa menopang ketinggiannya yang bermeter-meter. Bayangkan apa yang terjadi jika pohon bambu cina tidak mempunyai akar yang cukup kuat untuk menopang ketinggiannya? Sedikit tiupan angin saja pasti akan membuatnya tumbang. 
hmmm...... kereeen.... ^_^b

Kesimpulannya, tumbuh itu tidak melulu ke atas...

Ada masa-masa dimana kita harus memperkokoh pondasi kita alias 'tumbuh ke bawah', sama halnya dengan menumbuhkan dan memperkuat akar jauh ke pusat bumi.
Di waktu yang lain, bisa jadi arah pertumbuhan kita malah 'ke samping'. Baik itu memperlebar plus mempertebal batang dengan cara mengisi amunisi untuk modal tumbuh (ex:  makanan, ilmu, wawasan, dkk) alias tumbuh 'ke samping dalam', maupun memperluas jangkauan ranting yang bisa kita identikkan sebagai memperluas jaringan (pertemanan) alias tumbuh 'ke samping luar'.  ^_^

Dan pada masanya nanti, pertumbuhan ke atas akan lebih 'nyaman' jika disokong 
oleh pondasi yang kokoh, amunisi yang adekuat, serta jaringan yang luas.

So, jangan lagi percaya sama omongan iklan yang bilang "tumbuh itu ke atas" ya... Yang bikin iklan belum pernah kenalan sama bambu Cina siih... ^_^v

Oiya, satu lagi.. Berguru dari petani pada cerita di atas, satu kesimpulan : Never give up!! terus dan teruslah mencoba..
Yakinlah bahwa setiap usaha tidak akan pernah sia-sia, toh tugas kita hanya berusaha saja.. sedang hasil itu wewenang Allah. Yang pasti, buah dari setiap usaha itu tak beda jauh dengan hasil akhir dalam perlombaan, selalu bisa ditebak. Kemungkinannya cuma dua : menang atau menang-gung sedikit kecewa atas kebelumberhasilannya (kemudian segera bangkit kembali tentunya).

Semoga bermanfaat... dan Semangat jadi PemUlung!!! ^o^9


Inspiration : Al-Qandas Al-Kamiil, Kegagalan yang sempurna by. Akin_Anomali

21 Desember 2010

Aku dan si Pengembara TA


Isa namanya. Gaya pakaiannya casual. Dilengkapi atribut dua buah tas punggung, satu di belakang dan satu lagi (ukurannya lebih kecil) disandangnya di depan. Gaya khas mahasiswa...

Kami jumpa di halte -angkutan umum yang disediakan pemerintah Yogyakarta (baca: trans Jogja) masih di area terminal Jombor. Tapi nampaknya kami pun diangkut oleh bus yang sama sebelumnya, dari kota kelahiran saya. Seperti biasa, tak ada kegiatan lain yg dilakukan di dalam halte selain menanti... Ya, menanti hadirnya kereta bermesin warna hijau-kuning yang siap mengantar kami ke halte-halte transJogja yang tersebar di beberapa titik yang dekat dengan tempat tujuan kami...

Singkat kata, kami berkenalan. Tak langsung sebut nama, melainkan saling bertanya tempat tujuan masing-masing. Sebuah basa-basi khas pengendara angkutan umum.
Dan kami pun langsung nyambung...

Dari obrolan singkat itu, saya tahu bahwa ia adalah seorang 'pengembara' yang tengah mencari lokasi dimana objek penelitiannya berada. Bayangkan saja.. ia yang asli Sidoarjo, menuntut ilmu di Surabaya, dan kini mendamparkan dirinya di daerah Jogja-Jateng (bolak-balik). Sendirian. Tanpa sanak saudara. Di dua wilayah itu, ia hanya mengandalkan 'jaringannya'. Subhanallah...
Dan tahukah anda, kenapa dia musti bolak-balik Jogja-Jateng?? Karena ia tak punya informasi detail mengenai lokasi yang ia cari.
Jadi, ceritanya... ketika sedang mencari-cari topik untuk tugas akhirnya, ia menemukan sebuah artikel di koran tentang pernikahan beda agama. Dan ia merasa langsung sreg dengan topik tersebut. Menurut keterangannya, artikel di koran itu hanya menunjukkan lokasi yang dimaksud dengan "2 jam ke arah utara Yogyakarta". Itu saja. Tak ada keterangan tambahan seperti nama kota/ kabupaten, kecamatan, dll.

Sontak saya merasa tertohok mendengar cerita si Isa. Tentang semangat, keyakinan, dan perjuangannya demi mendapatkan data tentang objek penelitiannya. Datang jauh-jauh, sendiri, tanpa sanak saudara di seputar lokasi 'tak jelas' yang dicarinya. MasyaAllah....
Terasa sungguh ada tamparan bertubi-tubi mendarat di wajah saya. Malu!! Dengan segala kemudahan (yg jauh lebih mudah dibandingkan Isa) untuk memproses topik, proposal, sampai perizinan untuk mengambil data, eh.. masih juga tak beranjak dari Bab itu. Belum lagi setiap teringat ibu dan bapak di rumah, gemuruh di dada semakin menjadi. Astaghfirullah...

Obrolan kami pun berlanjut. Kali ini kami sudah berada dalam bus trans Jogja, dengan 'nomor' yang sama. Isa masih melanjutkan kisah 'pengembaraannya'. Kali ini dia akan singgah di kediaman temannya di daerah Bantul, setelah sebelumnya 2 hari 2 malam ia menyusuri sebuah kabupaten di sebelah utara Magelang. Ya.. di kabupaten itulah ia temukan TKP yang ia 'buru' selama ini. "Besok aku mau balik ke Surabaya, terus pulang ke Sidoarjo", ceritanya . What?? Secepat itukah? Batin saya. "Hari ini harusnya aku pulang, soalnya pas 40 harinya abah. Ini udah ditelpon terus sama orang rumah, disuruh cepet pulang", sambungnya. Saya pun cuma manggut-manggut mendengar ceritanya sambil membatin, Subhanallah... orang ini sepertinya tak punya lelah. ckckckck...

Obrolan ringan masih terus mengalir. Tentang keluarganya, tentang keluhannya... Ya, dia sempat konsultasi dengan saya terkait kesehatannya (itung2 belajar praktik jadi perawat konsultan ^_^). Tidak terasa, sampailah kami di halte tempat saya transit untuk berganti ke bus lain yang akan mengantarkan saya ke lokasi tujuan. Dan kami pun harus berpisah di sini, karena Isa harus transit di halte berikutnya. Kami sempatkan untuk saling bertukar nomor HP sebelum saya melangkahkan kaki meninggalkan bus yang kami tumpangi. Hmm...

Selamat melanjutkan perjalanan, kawan baruku...
Pertemuan singkat yang sungguh menggoreskan kesan mendalam bagiku. Semoga demikian pula bagimu...

Malam ini, ada sms masuk dari nomor yang baru kemarin tersimpan di phonebook-ku. "Assalamu'alaykum... kaifa hal, ukhti? aku sekarang lagi otw ke Sby nih... ", isi pesan singkat dari Isa Maria, kawan baruku, saudari baruku, mahasiswi Hukum tingkat akhir di salah satu Universitas Islam Negeri di Surabaya.

Alhamdulillah, Allah mempertemukanku denganmu di saat yang 'pas'... Pas aku butuh 'cambuk' untuk mengobarkan lagi semangatku dalam menyelesaikan 'kado cinta untuk orang tua' itu. Malu aku jika sampai 'kalah' darimu... Kau mampu untuk menumbuhkan sekaligus mempertahankan gairah dalam diri, demi mencapai apa yang ingin kau capai.
Jika seorang Isa bisa, harusnya aku pun bisa.. demikian juga dengan Anda... Bukan begitu, kawan??

Bergeraklah...



NOBODY can go back to yesterday and start a new beginning,
but..
ANYONE can START TODAY and make a NEW ENDING
Rencana... rencana.. dan rencana...
Berulang kali aku merombak rencana-rencana yang telah tertuang dalam tulisan-tulisan penuh optimisme.

*hmm... ada aura kurang sedap yang terraba dari kalimat di atas!!

Ya!!! kenapa berulang kali merombak?
Nampaknya ada yang tidak beres dengan... rencana2 itu? atau pada si perencana?

Well, tak peduli mana yang tak beres... yang pasti ada satu kaidah yang perlu diingat, diresapkan, kemudian diamalkan... "Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum (seseorang), kecuali mereka merubahnya sendiri.."

Jadi, jangan pernah puas dengan kesuksesanmu menyusun rencana-rencana langitan, sebelum kau berhasil mengejawantahkan rencanamu dalam laku, merealisasikannya dalam capaian-capaian nyata, untuk kemudian menambahkan rencana-rencana luar biasa lainnya setelah kau beres dengan rencana-rencanamu terdahulu...

BERGERAKLAH!!!!

13 Desember 2010

"Hai anakku, ....", kata Luqman

Luqman (Arab لقمان الحكيم, Luqman al-Hakim, Luqman Ahli Hikmah) adalah orang yang disebut dalam Al-Qur'an surah Luqman [32]:12-19 yang terkenal karena nasehat-nasehatnya kepada anaknya. Ibnu Katsir berpendapat bahwa nama panjang Luqman ialah Luqman bin Unaqa' bin Sadun.[1] Sedangkan asal-usul Luqman, sebagian ulama berbeda pendapat. Ibnu Abbas menyatakan bahwa Luqman adalah seorang tukang kayu dari Habsyi. Riwayat lain menyebutkan ia bertubuh pendek dan berhidung mancung dari Nubah, dan ada yang berpendapat di berasal dari Sudan. Dan ada pula yang berpendapat Luqman adalah seorang hakim di zaman nabi Dawud.[2][sunting] Kisah Luqman al-Hakim

Dalam sebuah riwayat menceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, "Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki." Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di pasar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang ajar anak itu."

Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh menyiksakan himar itu." Oleh karena tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai." Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihatai anaknya tentang sikap manusia dan seloteh mereka, katanya,
"Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu."
Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya : "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya) dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."
Subhanallah....

berikut adalah nasihat-nasihat beliau yang lain :

===============================================
===============================================
25 Nasihat Luqman al-Hakim

01 – Hai anakku: ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan SAMPAN yang bernama TAKWA, ISInya ialah IMAN dan LAYARnya adalah TAWAKKAL kepada ALLAH.

02 – Orang-orang yang senantiasa menyediakan dirinya untuk menerima nasihat, maka dirinya akan mendapat penjagaan dari ALLAH. Orang yang insaf dan sadar setelah menerima nasihat orang lain, dia akan senantiasa menerima kemuliaan dari ALLAH juga.

03 – Hai anakku; orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kepada ALLAH, maka dia tawadduk kepada ALLAH, dia akan lebih dekat kepada ALLAH dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepada ALLAH.

04 – Hai anakku; seandainya ibu-bapakmu marah kepadamu kerana kekhilafan yang dilakukanmu, maka marahnya ibu-bapakmu adalah bagaikan baja bagi tanam-tanaman.

05 – Jauhkan dirimu dari berhutang, kerana sesungguhnya berhutang itu bisa menjadikan dirimu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.

06 – Dan selalulah berharap kepada ALLAH tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak mendurhakai ALLAH. Takutlah kepada ALLAH dengan sebenar-benar takut (takwa), tentulah engkau akan terlepas dari sifat berputus asa dari rahmat ALLAH.

07 – Hai anakku; seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercayai orang dan seorang yang telah rusak akhlaknya akan senantiasa banyak melamunkan hal-hal yang tidak benar. Ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mau mengerti.

08 – Hai anakku; engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih lagi daripada semua itu, adalah bilamana engkau mempunyai tetangga yang jahat.

09 – Hai anakku; janganlah engkau mengirimkan orang yang bodoh sebagai utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdik, sebaiknya dirimulah saja yang layak menjadi utusan.

10 – Jauhilah bersifat dusta, sebab dusta itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit saja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.

11 – Hai anakku; bila engkau mempunyai dua pilihan, takziah orang mati atau hadir majelis perkawinan, pilihlah untuk menziarahi orang mati, sebab ianya akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedangkan menghadiri pesta perkawinan hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi saja.

12 – Janganlah engkau makan sampai kenyang yang berlebihan, kerana sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu adalah lebih baik bila makanan itu diberikan kepada anjing saja.

13 – Hai anakku; janganlah engkau langsung menelan saja kerana manisnya barang dan janganlah langsung memuntahkan saja pahitnya sesuatu barang itu, karena manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu belum tentu menimbulkan kesengsaraan.

14 – Makanlah makananmu bersama-sama dengan orang-orang yang takwa dan musyawarahlah dalam urusanmu dengan para alim ulama dengan cara meminta nasihat dari mereka.

15 – Hai anakku; bukanlah satu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah bagaikan orang yang mencari kayu bakar, maka setelah banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih mau menambahkannya.

16 – Hai anakku; bilamana engkau mau mencari kawan sejati, maka ujilah terlebih dahulu dengan berpura-pura membuat dia marah. Bilamana dalam kemarahan itu dia masih berusaha menginsafkan kamu, maka bolehlah engkau mengambil dia sebagai kawan. Bila tidak demikian, maka berhati hatilah.

17 – Selalulah baik tutur kata dan halus budi bahasamu serta manis wajahmu, dengan demikian engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang berharga.

18 – Hai anakku; bila engkau berteman, tempatkanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu daripadanya. Namun biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.

19 – Jadikanlah dirimu dalam segala tingkahlaku sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharap sanjungan orang lain karena itu adalah sifat riya’ yang akan mendatangkan cela pada dirimu.

20 – Hai anakku; janganlah engkau condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan oleh dunia saja karena engkau diciptakan ALLAH bukanlah untuk dunia sahaja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih hina daripada orang yang terpedaya dengan dunianya.

21 – Hai anakku; usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata-kata yang busuk dan kotor serta kasar, kerana engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.

22 – Hai anakku; janganlah engkau mudah tertawa kalau bukan karena sesuatu yang menggelikan, janganlah engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah engkau bertanya sesuatu yang tidak ada guna bagimu, janganlah menyia-nyiakan hartamu.

23 – Barang siapa yang penyayang tentu akan disayangi, siapa yang pendiam akan selamat dari berkata yang mengandung racun, dan siapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu akan menyesal.

24 – Hai anakku; bergaullah rapat dengan orang yang alim lagi berilmu. Perhatikanlah kata nasihatnya kerana sesungguhnya sejuklah hati ini mendengarkan nasihatnya, hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah dari mutiara kata katanya bagaikan tanah yang subur lalu disirami air hujan.

25 – Hai anakku; ambillah harta dunia sekadar keperluanmu saja, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekal akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang atau bakul sampah karena nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya karena sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah engkau berteman dengan orang yang bersifat dua muka, kelak akan membinasakan dirimu.


===============================================
===============================================
**dari berbagai sumber **

09 Desember 2010

Tadzkiroh...

Kaifa haluki, Sholihat???
Sudah bersyukur hari ini??

Ingat, sholihat... semua yang ada padamu kini hanyalah TITIPAN yang cepat atau lambat akan diambil kembali oleh Si Empunya.

Bisa jadi ia hadir sebagai AMANAH yang harus kau jaga dengan baik, sebab kau akan dimintai pertanggung jawaban atasnya...

Bisa jadi ia hadir dalam bentuk UJIAN (kesulitan maupun kemudahan) yang harus kau ‘garap’ seoptimal mungkin, agar kau bisa lulus dan beranjak ke tingkat berikutnya...

Yakinlah bahwa setiap amanah maupun ujian yang kau jalani kini pasti 'kan mampu kau tuntaskan.
Bukankah janji Allah itu pasti? Ia tidak akan memberikan beban diatas kemampuan hamba-Nya. Dan Ia-pun menjanjikan adanya kemudahan setelah kesulitan yang menghadang.

Laa takhof walaa tahzan, innallaaha maa’anna...

Tetap jalani hidup dengan SENYUM, SABAR, dan SYUKUR...

Jadikan RIDHO dan KHUSNUDHON atas segala rencana Allah sebagai bekalmu menuai ridho dan barokah-Nya...

kemudian lihatlah, semua ‘kan indah pada waktunya...


Awalnya dari Niat

Awalnya dari niat.
Kelak Allah akan menilainya dan memberikan barakah sesuai dengan niatmu. Kalau niatmu menikah karena ingin menjawab pertanyaan Rasulullah tentang apa yang menghalangi seorang mukmin untuk mempersunting istri, insya allah engkau akan mendapati anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah.

Jika engkau tidak tahu betul bagaimana mendidik anakmu, Allah yang akan mendidiknya. Allah yang akan memberikan ilmu melalui kekuasaanNya. Banyak cara Allah membaguskan hamba-hambaNya. Banyak cara Allah menjadikan seorang hamba terangkat tinggi karena niatnya melalui anak-anak yang mereka lahirkan. Padahal mata kita yang penuh teori, semula memandang proses perkembangan anak-anak itu sebagai kesalahan. Sungguh sangat sedikit ilmu yang dimiliki manusia.

Awalnya dari niat.
Maka atas dasar apakah engkau menikahi calon istrimu? Jika gadis yang engkau pinang itu cantik, apakah engkau menikahinya karena mengharap keindahan dan wajah mengesankan? Ataukah, karena khawatir kecantikannya dapat membuatmu terjerumus kepada maksiat, lalu engkau berusaha dengan sungguh sungguh untuk segera menikahinya demi menjaga kehormatan farjimu berdua.

Beda sekali antara keduanya. Yang pertama dapat mendatangkan kekecewaan setelah menikah. Pernikahan sangat sedikit barakahnya. Sedang yang kedua, insya Allah akan dipenuhi barakah dari Allah yang terus melimpah.

Ketika engkau melihat calon istrimu memiliki ilmu agama yang bagus, atas dasar apakah engkau memilihnya? Ketika engkau melihat calon istrimu berkecukupan, atas dasar apakah engkau meminangnya? Ketika engkau melihat calon istrimu berkekurangan, atas dasar apakah engkau memintanya kepada kedua orangtuanya.

Awalnya adalah niat.
Maka aku bertanya kepadamu wahai calon istriku, apakah yang menggerakkan hatimu untuk mempercayakan kesetiaanmu kepadaku? Aku bertanya padamu karena niat akan menetukan apa yang akan engkau dapatkan kelak setelah kita menikah, dan kelak setelah kita tiada. Ketika kita sama sama menjadi jenazah.
Niatmu akan mempengaruhi bagaimana engkau merasakan arti saat-saat berdekatan, keindahan saat bersama, keadaan hati saat menghadap masalah, sampai bagaimana engkau merasakan arti darah setetes ketika melahirkan, juga ketika harus bangun saat anakmu terbangun dari tidurnya.

Semua berawal dari niat. Niat ketika menerima pinangan, niat ketika memasuki jenjang pernikahan, niat ketika menghabiskan saat-saat berdua, dan niat ketika melakukan berbagai hal. Niat-niat itu bisa menambah barakah dan memperbaiki kesalahan niat sebelumnya, bisa mengurangi barakah dari apa yang sebelumnya telah engkau terima atau engkau berikan kepada suami.

Awalnya dari niat.
Aku mendengar, kata Umar bin Khaththab r.a, Rasulullah Saw bersabda, “ Sesungguhnya amal perbuatan itu dinilai hanya berdasarkan niatnya. dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan, barangsiapa hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka nilai hijrahnya adlah kepada Allah dan RasulNya. dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau perempuan yang ingin dinikahinya maka nilai hijrahnya adalah apa yang menjadi tujuan hijrahnya." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi dan An Nasa’i) [*]

Awalnya dari niat.
Niat yang baik dan jernih akan mendekatkan kepada barakah. Semakin baik niat kita, insya Allah semakin barakah rumah tangga kita, sekalipun kita tidak bisa menunaikan seluruh perkara yang kita niatkan dengan sebaik-baiknya. Bahkan kalau kita tidak bisa mengamalkan apa yang sudah kita niatkan dengan sungguh-sungguh, maka bagi kita apa yang kita niatkan. Allah menyempurnakan apa yang kita niatkan, sekalipun kita tidak bisa melaksanakan.

Tetapi beda sekali antara niat yang sungguh-sungguh dengan mengada-adakan niat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari ghurur (terkelabui). Kita menyangka punya niat, padahal hanya angan-angan yang kemudian kita jelaskan dengan akal.

Adapun jika engkau telah berniat dengan niat yang baik, maka berbahagialah, sebab Rasulullah Saw, bersabda, “Niat orang mukmin lebih baik daripada perbuatannya. Sementara niat orang fasik lebih buruk daripada perbuatannya”

Maka marilah kita niatkan satu kebaikan didalam pernikahan. Niat mendidik anak dengan sebaik-baik pendidikan. Niat menetapkan satu sunnah hasanah dalam keluarga. Niat untuk melaksanakan perbuatan yang mendatangkan barakah bagi kita.

Satu niat saja yang sungguh-sungguh ingin kita kerjakan, insya Allah menjadi pintu barakah, kebaikan berlipat-lipat yang terus berkembang. Hanya Allah yang berhak menentukan kebaikan apa yang dikaruniakan kepada kita di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi kebaikan. Maha Suci Allah dari segala keburukan yang diangan-angankan oleh akal yang keruh.

Hujan itu mensucikan bumi

Adakalanya niat kita menikah masih belum bersih, kemudian Allah memberikan kasih sayangNya. Allah memberikan berbagai keadaan sehingga kita mensucikan niat kita. Allah menurunkan peristiwa-peristiwa sehingga kita mengetahui kekotoran niat kita yang selama ini tersembunyi dari pengetahuan kita sendiri maupun orang lain.

Adakalanya niat seseorang sudah bersih, kemudian Allah menguji kesungguhan niatnya. Allah memberikan ujian, sehingga tampak apakah ia bersungguh-sungguh dengan niatnya. Sehingga tampak apakah ia tetap berpegang pada tali-Nya disaat menghadapi kesulitan. Sehingga semakin kokoh niatnya kalau ia tetap memegangi niatnya. Yang demikian ini insya Allah akan membuat niatnya lebih dekat kepada barakah dan tidak mudah meluntur oleh keadaan-keadaan sesudah menikah.
“Dan Allah berbuat demikian untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada didalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati” (Ali Imran : 154)
Sebagian orang ridha terhadap apa yang terjadi, sehingga Allah menambah kemulian dan barakahnya. Sebagian merasa kecewa kepada Allah. Sebagian lagi merasa kecewa, kemudian memperbaiki hati setelah menyadari kesalahan-kesalahannya.

Adakalanya Allah mensucikan bumi dengan menurunkan hujan. Dalam hujan ada kilat dan petir. Sebelum hujan ada mendung tebal yang mebuat gerah orang-orang dimuka bumi. Kita sering tidak bisa membedakan antara panasnya terik matahari dengan gerahnya awan tebal yang mengawali hujan penuh rahmat.

Pensucian niat bisa juga terjadi karena bertambahnya ilmu. Ketika seseorang memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai agamanya, akhirnya ia mengenali kekeruhan-kekeruhan niat yang selama ini tidak diketahuinya.

Mudah mudahan Allah memperbaiki niat kita. Mudah-mudahan Allah melepaskan kita dari ghurur (terkelabui) atas perkara-perkara yang kita sangka niat kita, padahal hanya angan-angan yang kita jelaskan dengan akal saja.

Aku mengingatkan pada diriku sendiri dan orang -orang yang aku cintai, mintalah kepada Allah penjagaan niat dari kotoran-kotoran yang tidak engkau ketahui dan kebusukan yang tidak mampu engkau hilangkan sendiri saat ini. Semoga Allah mengampuniku (kita) dan memperbaiki niatku (kita).

Wallahu ‘alam bishawab.
Diambil dari tulisannya ustadz Faudzil Adzim
(reposted @ http://bintangbirulangit.wordpress.com/2010/09/02/awalnya-dari-niat/)
*****************************************************************
Sebuah tadzkiroh akan pentingnya meluruskan niat di setiap langkah (bukan hanya pada topik di atas saja ya...^^).
Semoga kita termasuk orang2 yang senantiasa mengawali setiap episode hidup kita dengan niat karena Allah semata, yang tak henti memperbarui niat kita selama 'perjalanan', juga memurnikan niat di akhir setiap 'kisah'. Aamiin...


[*] versi lengkapnya :
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Arti Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)

14 Oktober 2010

10 Nasihat 'Ali bin Abi Thalib

  • Dosa terbesar adalah “Ketakutan”.
  • Rekreasi terbaik adalah “Bekerja”.
  • Musibah terbesar adalah “Keputusasaan”.
  • Keberanian terbesar adalah “Kesabaran”.
  • Guru terbaik adalah “Pengalaman”.
  • Misteri terbesar adalah “Kematian”.
  • Kehormatan terbesar adalah “Kesetiaan”.
  • Karunia terbesar adalah “Anak yang sholeh”.
  • Sumbangan terbesar adalah “Partisipasi”.
  • Modal terbesar adalah “Kemandirian”.

24 Januari 2010

Segores Pengingat dan Penyemangat


apa yang baik menurut pandangan manusia belum tentu yg terbaik menurut ALlah...


Subhanallah....
Setiap apa yang 'diucapkan'-Nya, tiada pernah tidak terbukti!!!

Manusia selalu punya rencana...
Manusia tentunya telah berusaha...
Do'a dan tawakkal pun teriring bersama dua perkara sebelumnya...

Namun jika ternyata Ia berkehendak lain, adakah kemudian Ia dholim???
TENTU TIDAK!!!

Yakinlah bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi kita, paling tidak untuk saat ini...
Yakinlah bahwa skenario buatan-Nya adalah yang terbaik bagi kita, meski kadang terasa berat diri ini menjalaninya...

Teringat dulu ketika 'kita-kecil' tengah pilek, lalu ada penjual es lewat. Rengekan manja, bahkan tangisan pilu 'kita-kecil' ternyata sama sekali tidak membuat ibu meng-iya-kan permintaan 'kita-kecil' untuk minum es yg sedemikian nikmat itu. ngambek... sedih... kecewa... Yah, itu respon yang normal...
Tapi belakangan baru kita tahu bahwa TERNYATA ketika ibu tidak memenuhi keinginan kita dan -nampaknya- tidak mempedulikan perasaan kita saat itu, tak lain adalah untuk menjaga kita... agar sakit kita tidak bertambah parah... (hmmm...)

Demikian pula dengan yang ALlah lakukan...
Ketika tiba-tiba Ia "menyentakkan hati" kita,,,
tiada lain hanyalah untuk menjaga kita agar tetap berada di jalan-Nya...
agar kita tetap berfokus pada apa yang seharusnya kita fokuskan...
agar kotoran yg menyelimuti hati kita meluruh oleh sentakan itu sehingga hati kita jadi 'cling' kembali... ^^


Wahai manusia...

Kita tak tahu yang terjadi itu berkah atau musibah, yang bisa kita lakukan adalah ber-khusnudhon pada Allah...
Terus jalani hidup dengan Senyum, Sabar, dan Syukur...
Satu lagi, pertahankan sikap OPTIMIS dan REALISTIS...

06 Januari 2010

D.I.A.M !!!


Ada -orang bijak- yang bilang "diam itu emas"

namun ada kalanya diam itu tidak lagi emas !!

bisa jadi, diam sebab tidak peduli

bisa jadi, diam karena bodoh

bisa jadi, diam akibat tidak tahu

bisa jadi, diam bermakna statis

bisa jadi, diam berarti mati



............................................................



kadang diam itu manis...

kadang diam itu nikmat...

namun,,

kadang diam juga pahit...

kadang diam juga duka...



..........................................................



satu yang pasti,


diam itu sunyi...




  • jika sampai detik ini aku masih diam, bukan berarti ku takkan pernah bicara. sudah... diamkan saja diamku ini!! Jika tiba masanya nanti, diamku pasti kan terhenti... sebab diamku kini adalah diam mencari...

22 November 2009

Akhwat-akhwat Kepunyaan Allah...


Dikisahkan bahwa ada seorang remaja putri bertanya pada ibunya: “Ibu, ceritakan padaku tentang akhwat sejati…”Rata Penuh

Sang ibu tersenyum sambil tengadah, dan menjawab…
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari wajahnya yang manis dan menawan, tetapi dari kasih sayangnya pada karib kerabat dan orang disekitarnya.
Pantang baginya mengumbar aurat, dan memamerkannya kepada siapapun, kecuali pada pasangan hidupnya.
Dia yang senantiasa menguatkan iltizam dan azzam-nya dalam ber-ghadul bashar dan menjaga kemuliaan diri, keluarga, serta agamanya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lembut dan mempesona, tetapi dari lembut dan tegasnya tutur dalam mengatakan kebenaran.
Dia yang senantiasa menjaga lisan dari segala bentuk ghibah dan namimah. Pantang baginya membuka aib saudara-saudaranya.
Dia yang memahami dan merasakan betul jika Allah swt senantiasa mengawasi segala tindak-tanduknya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari liuk gemulainya kala berjalan, tetapi dari sikap bijaknya memahami keadaan dan persoalan-persoalan.
Dia yang senantiasa bersikap tulus dalam membina persahabatan dengan siapapun, dimana dirinya berada. Tak ada perbendaharan kata “cemburu buta” dalam kamus kehidupannya.

Dia yang senantiasa merasa cukup atas nafkah yang diberikan sang suami kepadanya.
Tak pernah menuntut apa-apa yang tidak ada kemampuan pada sang qowwam ditengah keluarga. Sabar adalah aura yang terpancar dari wajahnya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia menghormati dan menyayangi orang-orang ditempat kerja, tetapi, dari tatacaranya menghormati dan menyayangi orang-orang di rumah dan sekitarnya.
Dia yang jika dilihat menyejukkan mata dan meredupkan api amarah.
Baitii Jannatii selalu berusaha ia ciptakan dalam alur kehidupan rumah tangga.
Totalitas dalam menyokong dakwah suami dan berdarma bakti mengurus generasi penerus yang berjiwa rabbani.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang memuji dan menaruh hati padanya, tetapi dilihat dari kesungguhannya dalam berbakti dan mencintai Allah, Rasulullah, dan pecintanya.
Pantang baginya mengikuti arus mode yang melenakan dan menyilaukan mata.
Dia yang selalu menghindari sesuatu yang syubhat terlebih hal-hal yang di haramkan-Nya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari pandainya dia merayu dan banyaknya air mata yang menitik tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan.
Dia yang pandai mengatur, membina dan menjaga keharmonisan rumah tangga.
Pancaran kasih sayang melesat tajam dari tiap nada bicara yang keluar dari bibirnya.
Dia yang memiliki perasaan yang tajam untuk selalu berbuat ihsan kala ditempat umum maupun kala sendiri.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari tingginya gelar dan luasnya wawasan tetapi tingginya ghirah untuk
menuntut ilmu dan mengamalkan syariat secara murni dan berkesinambungan…

Setelah itu, ia bertanya kembali…
“Adakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, ibu?”

Sang ibu menjawab: “Adakah kau meragukan kesalehan para ummahatul mukminin?
Contohlah para istri dan puteri Rasulullah saw, bagaimana mereka bertindak tanduk, bagaimana mereka menyokong pasangan hidup mereka dalam menghadapi badai kehidupan, bagaimana mereka berdakwah, bagaimana mereka membentuk dan membina angkatan generasi rabbani…

Tauladanilah mereka…
Khadijah, Aisyah, Hafsah, Maimunah, Shafiyah, Fatimah Az-Zahra, dan para shahabiyah radiyallohu’anha ajma’in. Merekalah sebaik-baik perhiasan dunia itu. Ingatkah kau sabda Rasulullah saw:
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

Dan juga firman-Nya yang mulia:
“…Dan oleh sebab itu, wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara (dirinya dan harta suami) ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah (menyuruh) memeliharanya…” (QS. An-Nisaa’: 34)

Pelajarilah ini. Sambil memberinya sebuah buku, Sirah Shahabiyah. Pelajari dan amalkan. Tempalah dirimu supaya menjadi seperti mereka. Niscaya engkau akan menjadi akhwat sejati. Muslimah yang membuat iri dan cemburu para bidadari. Niscaya menjadi dambaan bagi mereka insan berjiwa rabbani. Menjadi dambaan mereka para hamba Allah yang tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia yang semu.
Niscaya menjadi dambaan bagi mereka pemilik ruh dakwah dan jihadiyah.
Jika tidak demikian, tidak ada yang bisa menjaminmu untuk masuk kedalam surga-Nya.

Adakah surga dan kemuliaan itu dapat dibeli dengan banyaknya senda gurau dan gelak tawa? Sekali-kali tidak wahai anakku! Surga hanya dapat kau beli dengan kesungguh-sungguhan dalam beramal dan keikhlasan yang sangat untuk semata mengharap ridha Allah ta’ala.

Takutlah engkau pada suatu hal yang telah diramalkan Rasulullah saw dalam sabdanya:
“Aku diperlihatkan neraka ternyata kebanyakan penghuninya wanita yang kufur.
Para sahabat bertanya: ‘Apakah dia kufur kepada Allah?’ Rasulullah menjawab: ‘Tidak’. Mereka hanya kufur kepada suaminya, mereka mengingkari kebaikannya. Jika ia berbuat baik terhadap salah seorang diantara mereka, mereka menyanjungnya. Kemudian apabila terhadap sedikit saja kejelekan, ia berkata: ‘Aku belum pernah melihatmu berbuat baik terhadapku.” (HR. Bukhari)

Jagalah dirimu supaya tidak termasuk dalam golongan mereka. Hati-hatilah terhadap perbuatan kufur yang tidak engkau sadari.
“Camkanlah itu wahai anakku!” kata sang ibu.
Kepalanya menunduk. Tangannya mengusap ujung matanya dengan sepotong sapu tangan warna biru. Warnanya telah kabur. Sekabur pandangan matanya. Sang anakpun segera mendekap ibunya. Beberapa tetes embun bening, mengucur dari ujung matanya.

Subhanallah...
Semoga kita(para wanita) bisa menjadi seperti itu...

03 Maret 2009

Puncak


segores tulisan yang insyaAllah mengingatkan kita akan pencapaian-pencapaian dalam hidup,,,,
disadur dari www.eramuslim.com


Di sebuah dataran tinggi pada tepian hutan, seorang kakek tampak berbicara dengan tiga pemuda. Sesekali janggutnya yang lebat bergerak-gerak dipermainkan angin.
"Murid-muridku, aku akan mengujimu dengan puncak bukit di belakangku," ucap sang kakek sambil menoleh ke arah belakang. Tampak sebuah bukit hijau yang begitu tinggi. "Siapa yang bisa meraih puncak bukit itu, kalian lulus!" tambah sang kakek kemudian. "Tapi, ingat! Berhati-hatilah dengan bunga-bunga nan harum di sepanjang jalan setapak, ia bisa melemahkanmu."
"Baik, Guru!" jawab ketiga murid itu sambil bergegas menuju kaki bukit. Mereka pun mulai melakukan pendakian.

Di penghujung hari pertama, seorang murid tampak bergerak melambat. Ia begitu asyik menikmati keindahan bunga-bunga di sekelilingnya. "Hmm, indahnya. Andai aku bisa menghirup keharuman di balik keindahan bunga-bunga itu!" ucap sang murid sambil mendekati sebuah bunga. Dan, ia pun berhenti. Ia tampak berduduk santai sambil memegang beberapa kuntum bunga.

Di penghujung hari kedua, murid kedua yang mulai melambat. Ia memang tidak terpengaruh dengan keindahan bunga. Tapi, ia merasa begitu letih. Dan ia pun terduduk sambil menyaksikan murid ketiga yang terus bergerak ke puncak bukit. "Ah, andai aku bisa sekuat dia!" ucapnya sambil memijat-mijat kakinya yang tampak kaku. Dari arah itu, ia bisa melihat pemandangan luas pada lereng bukit.

"Kau lulus, muridku," ucap sang guru saat ketiganya tiba di kaki bukit. Murid ketiga tampak senyum. Sementara yang lain tetap terdiam. "Bagaimana kamu bisa terus mendaki, saudaraku?" tanya murid kedua kepada yang ketiga.

"Sederhana. Aku tidak pernah menoleh ke bawah. Pandanganku terus ke puncak bukit," jawab murid ketiga begitu mantap.
 
**

Para penggiat kebaikan paham betul kalau jalan hidup bukan sekadar ujian dan cobaan. Tapi juga perjuangan. Perjuangan agar bisa memberi dengan nilai yang paling tinggi.

Namun, di saat-saat lelah, segala kemungkinan bisa terjadi. Kalau cuma fisik yang lelah, langkah masih bisa diayunkan, walaupun lambat. Tapi jika hati yang letih, bunga-bunga yang lemah pun bisa memperdaya.
Itu pun masih belum cukup. Karena di saat lelah, orang kerap menoleh ke bawah. Ia pun dibuai fatamorgana prestasi, "Ah, ternyata aku sudah begitu tinggi mendaki!" Padahal, puncak yang ia tuju masih sangat jauh...

Wallahu a'lam

23 Februari 2009

Sebuah renungan tentang Takdir


Bukan kita yang memilih takdir, Takdirlah yang memilih kita.
Bagaimanapun, takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkannya di saat yang paling tepat.

-Salahuddin al Ayyubi-


Tak jarang terdengar ungkapan putus asa dari bibir makhluk yang diciptakan dengan sedemikian banyak kelebihan. Ungkapan-ungkapan itu meluncur begitu saja mengiringi suatu kejadian yang tak diharapkan terjadi. Ujung dari semua itu, hilangnya segala rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Dan yang biasa dijadikan apologi adalah ia yang bergelar takdir...

Sesungguhnya, apa yang disebut dengan takdir??

Takdir adalah suatu ketetapan akan garis kehidupan seseorang. Setiap orang lahir lengkap dengan skenario perjalanan kehidupannya dari awal hingga akhir. Hal ini dinyatakan dalam Qur'an bahwa segala sesuatu yang terjadi terhadap diri seorang sudah tertulis dalam lauhul mahfudz. Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Allah yang harus diimani. Secara sederhana takdir didefinisikan sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.

Untuk memahami konsep takdir, umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir. Kedua dimensi yang dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan.
  • Dimensi ketuhanan
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.


  • Dimensi kemanusiaan
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang meginformasikan bahwa Allah memperintahkan manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang dipilihnya.


Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manusia hanya tahu takdirnya setelah terjadi.

Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, Allah telah meperintahkan untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya, seperti termaktub dalam QS. Ar-ra'du : 11 yang artinya "... sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...".


Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinialianya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga (Al Hadiid QS. 57:23).

Kesimpulannya, karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah.


wallahu a'lam...

21 Februari 2009

Laa tahzan...

Belum lama ini ada sms masuk ke ponsel saya. Begini bunyinya : "betapa Allah ingin selalu membahagiakan kita,, di setiap kegundahan seolah Ia berkata: Tenanglah, teguhlah dan optimislah! karena di penghujung setiap malam, ada pagi yang cerah. Di balik setiap bukit ada taman. Di balik batu besar ada mata air yang sejuk. Setelah perjalanan jauh, ada sungai yang mengalir. Dan setelah kelelahan, ada tidur yang tenang, lelap, dan melapangkan..."

Allahuakbar!!!
Betapa Allah maha tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya...

Ditengah panasnya hati dan pikiran ini,,, tiba-tiba ada mata air sejuk memancar, mendinginkan suasana hati dan pikiran yang tengah membara.
Melalui perantara seorang saudara yang sama-sama sedang mendaki menuju puncak prestasi...

Dunia ini memang diciptakan dengan amat sempurna oleh Allah... Ia ciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan,, berputar silih berganti,, sehingga semua makhluk merasakan apa yang dirasakan makhluk lainnya... Sehingga manusia bisa belajar dan mengambil ibroh dari apa yang terjadi.

Setiap awal,, tentu akan datang akhir...
Setiap ada panas,, tentu akan hadir dingin...
dan setiap kesulitan,, tentulah akan diikuti dengan kemudahan...

Yakinlah itu wahai saudaraku...
Jika kau telah mengusahakan sesuatu dengan optimal,,, diiringi dengan lantunan doa yang tiada terputus,,, maka bertawakal-lah...
Sebab area hasil itu adalah hak prerogatif-Nya...

Jadi,,, teruslah berlari...
Kejar apa yang ingin kau raih...
Jangan hiraukan aral rintangan yang menghalangi jalanmu...
Jangan pernah biarkan rasa lemah dan takut menguasaimu...
Sebab kau dilahirkan sebagai pemenang...
Karena kau dilahirkan untuk terus berjuang...
Biarlah tetesan darah, keringat, dan air mata menghiasi hari-harimu...
Kemenangan dan kebahagiaan telah menunggumu di depan sana....

Laa tahzan,, walaa ta khouf... Innallaha ma'anna...