28 Juli 2011
Kepingan emas dari atas
Alkisah, sebuah kapal tengah berlayar mengarungi samudera. Kapal itu sangatlah sederhana, hanya ada dua lantai saja. Suatu ketika, seorang penumpang yang berada di lantai atas (sebut saja si-A) hendak meminta bantuan kepada penumpang yang ada di lantai bawah (sebut saja si-B). Teriaklah si-A memanggil si-B yang ada di bawahnya. Namun, teriakan si-A tak terdengar oleh si-B, tertelan oleh kencangnya deru mesin kapal.
Si-A tak kehabisan cara.. ia segera melempar sekeping emas yang dibawanya ke lantai bawah, ke arah si-B. Klitiiiik.... lemparannya meleset. Kepingan emas pertama yang dilemparnya sukses mendarat manis di geladak lantai bawah tanpa menyentuh tubuh si-B sedikitpun. Tak lama, si B melihat kepingan emas tersebut. Dipungutnya kepingan emas yang tergeletak di lantai sambil bergumam, "Waah... rezeki nih..".
Si-A mencoba kembali memanggil si-B. Masih dengan cara yang sama, ia lempar sekeping emas miliknya, ia arahkan tepat di kepala si-B. Seettt....Klitiik.... hmm, meleset lagi rupanya. Lagi-lagi si-B hanya memungut kepingan emas yang jatuh dari atas tanpa mencoba melihat ke arah lantai atas. Beberapa kali si-A mencoba memanggil si-B dengan cara yang sama. Namun, masih saya belum berhasil membuat si-B mendongak ke arahnya. Hingga pada lemparan yang ke-sekian kali, Pletaakkkk.... "Aaaw!!!", teriak si-B. "Siapa sih, yang main lempar-lempar sembarangan?? sakit tauuuk!!", umpatnya sambil mendongak ke atas...
*******
Antara manusia, rezeki, musibah, dan Tuhan...
Sering kali manusia tak mencoba 'melihat ke atas' ketika mendapatkan rezeki dari Tuhan...
Namun, jarang sekali manusia tak 'melihat ke atas' ketika Tuhan mencobanya dengan musibah...
Semoga, kita bukan termasuk manusia yang senantiasa lupa bersyukur ketika nikmat-Nya tercurah melimpah.
Semoga, kita pun bukan termasuk manusia yang hanya pandai mengingat-Nya dan meminta belas kasihan-Nya ketika cobaan berwujud musibah datang menghampiri.
Bukankah Allah mencoba hamba-Nya dengan kesusahan maupun kesenangan? biar nampak mana hambanya yang senantiasa bersabar dan bersyukur atas setiap ujian-Nya... Allahu a'lam..
17 Juni 2011
Peka
menguatkan atau melemahkan
mempertebal atau mempertipis
aah,,
cuma bisa berusaha mengingatkan diri sendiri
bahwa manusia itu diberikan oleh-Nya hati
yang ia ada untuk merasai..
31 Mei 2011
Mangkuk Cantik, Madu Manis, dan Sehelai Rambut
Abubakar r.a. berkata, "iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut".
Umar r.a. berkata, "kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Utsman r.a. berkata, "ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber'amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
'Ali r.a. berkata, "tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Fatimah r.ha.berkata, "seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Rasulullah SAW berkata, "seorang yang mendapat taufiq untuk ber'amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber'amal dengan 'amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat 'amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Malaikat Jibril AS berkata, "menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Allah SWT berfirman, " Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
04 Januari 2011
Ingatlah sebelum kau...
Sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar,
ingatlah akan seseorang yang TIDAK BISA BERBICARA…
Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu,
ingatlah akan seseorang yang TIDAK PUNYA APAPUN untuk dimakan…
Ketika engkau mengeluh tentang orang tuamu,
ingatlah anak-anak yatim piatu yang TAK PERNAH MENGENAL
dan MERASAKAN KASIH SAYANG orang tuanya …
Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau istrimu,
ingatlah akan seseorang yang MENANGIS kepada Allah
untuk MEMINTA PASANGAN HIDUP...
Ketika engkau lelah dan mengeluh tentang anak-anakmu,
ingatlah orang-orang tua yang HIDUP KESEPIAN sebatang kara
TANPA ADA ANAK-ANAK di sisinya…
Sebelum engkau mengeluh tentang rumahmu yang kotor,
Dan tak ada yang membersihkan atau menyapu lantai,
ingatlah akan gelandangan yang TINGGAL di jalanan
dan TIDUR di trotoar-trotoar
Sebelum mengeluh karena menyetir terlalu jauh,
ingatlah akan orang yang harus BERJALAN KAKI
untuk menempuh JARAK YANG SAMA…
Sebelum engkau mengeluh tentang pekerjaanmu,
ingatlah akan para pengangguran, orang-orang cacat,
dan mereka yang MENGINGINKAN PEKERJAANMU
serta RELA MENGGANTIKANMU…
Sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu,
ingatlah akan orang yang meninggal mendahuluimu
dalam keadaan BELUM BERTOBAT...
Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu,
berterima kasihlah pada Allah
karena engkau MASIH HIDUP dan ADA di dunia ini….
Rupanya antara SUSAH dan SENANG yang Allah anugerahkan,terlalu banyak keSENANGan yang belum kita insafi dengan sebenar-benarnya
hingga dunia terasa sempit oleh manusia-manusia yang tak lelah berkeluh kesah..
Jadi, mulai detik ini...
sebelum kau mulakan segala aktivitas, bukalah hari dengan senyum dan syukur..
setiap kali kau beraktivitas, hiasi hati, otak, dan lisanmu dengan senyum dan syukur..
ketika kau selesai beraktivitas, akhiri pula dengan senyum dan syukur..
Lalu kau 'kan jumpai dalam dirimu, sesosok manusia yang sungguh beruntung.. ^_^
22 Desember 2010
Bye,,, Oneng Jr. T-T
![]() |
| modus 1 : KEP |
![]() |
| modus 2 : OD |
19 Desember 2010
Kepada Yth. Saudara Copet
Salam...
Semoga Anda senantiasa diberikan kesehatan oleh Yang Maha Kuasa. Baik itu kesehatan fisik, kesehatan hati, maupun kesehatan pikiran. Aamiin...
Melalui surat ini, kami bermaksud untuk me-MOHON MAAF, karena kami senantiasa mempersalahkan anda setiap kali ada barang berharga kami yang raib begitu saja (setelah melakukan suatu perjalanan). Terlepas dari itu memang sungguh-sungguh karena Anda, atau karena kecerobohan kami semata. Jadi, mohon dimaafkan ya...
Selanjutnya kami juga ingin menghaturkan TERIMA KASIH. Ya.. Terima kasih banyak karena Anda telah memberikan pelajaran berharga kepada kami, seperti :
- Pelajaran untuk senantiasa berhati-hati dan waspada dimanapun berada.
- Pelajaran untuk senantiasa bersahaja dalam memakai/ membawa apapun yang berharga. Memakai pakaian yang bersahaja; Tidak memakai/ memperlihatkan perhiasan secara berlebihan; Membiasakan untuk membawa uang secukupnya; Tidak 'memamerkan' barang berharga di depan khalayak. Yah, intinya... Yang sederhana saja, yang sewajarnya saja, dan secukupnya saja.
- Pelajaran untuk lebih rajin bersedekah kepada yang lebih membutuhkan. Bisa jadi, keterlibatan anda merupakan salah satu skenario Yang Maha Kuasa untuk mengingatkan kami bahwa dalam harta yang kami punya, disitu ada hak-hak orang lain yang seharusnya disampaikan kepada yang berhak. Jadi, terima kasih ya.. sebab Anda telah membantu kami untuk mengurangi 'pemberat' itu.
- Pelajaran untuk senantiasa menginsafi bahwa setiap yang menempel pada tubuh kita, setiap yang kita milik, sesungguhnyai merupakan 'titipan' maupun 'pinjaman' semata. Jadi, ketika Sang Pemilik berkehendak mengambil miliknya dari tangan kita, selayaknya tidak ada sedikitpun rasa berat dalam hati kita. Toh, jika Ia masih percaya bahwa kita mampu memegang amanah dari-Nya, pasti kita akan diberi 'titipan' lagi nantinya.. Juga ketika kita masih butuh 'pinjaman' dari-Nya, tak mungkin Ia tidak memberikan 'pinjaman' lagi kepada kita. Ia tahu yang kita mau, dan Ia pun tahu yang kita butuhkan. Bukan begitu??
Dan.. sekali lagi, izinkan saya haturkan banyak terima kasih kepada Anda... (Anda memang pengajar-handal-tanpa-gelar yang OKE punya...)
Baiklah, kami cukupkan saja surat spesial ini. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Semoga Yang Maha Kuasa senantiasa membuka lebar-lebar pintu rezeki anda, melalui jalan yang Ia ridhoi tentunya...
Sekian, dan terima kasih atas perhatiannya.
Salam....
Hormat kami,
'murid' Anda
09 Desember 2010
Tadzkiroh...
Sudah bersyukur hari ini??
Ingat, sholihat... semua yang ada padamu kini hanyalah TITIPAN yang cepat atau lambat akan diambil kembali oleh Si Empunya.
Bisa jadi ia hadir sebagai AMANAH yang harus kau jaga dengan baik, sebab kau akan dimintai pertanggung jawaban atasnya...
Bisa jadi ia hadir dalam bentuk UJIAN (kesulitan maupun kemudahan) yang harus kau ‘garap’ seoptimal mungkin, agar kau bisa lulus dan beranjak ke tingkat berikutnya...
Yakinlah bahwa setiap amanah maupun ujian yang kau jalani kini pasti 'kan mampu kau tuntaskan.
Bukankah janji Allah itu pasti? Ia tidak akan memberikan beban diatas kemampuan hamba-Nya. Dan Ia-pun menjanjikan adanya kemudahan setelah kesulitan yang menghadang.
Laa takhof walaa tahzan, innallaaha maa’anna...
Tetap jalani hidup dengan SENYUM, SABAR, dan SYUKUR...
Jadikan RIDHO dan KHUSNUDHON atas segala rencana Allah sebagai bekalmu menuai ridho dan barokah-Nya...
kemudian lihatlah, semua ‘kan indah pada waktunya...
Awalnya dari Niat
Kelak Allah akan menilainya dan memberikan barakah sesuai dengan niatmu. Kalau niatmu menikah karena ingin menjawab pertanyaan Rasulullah tentang apa yang menghalangi seorang mukmin untuk mempersunting istri, insya allah engkau akan mendapati anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah.
Jika engkau tidak tahu betul bagaimana mendidik anakmu, Allah yang akan mendidiknya. Allah yang akan memberikan ilmu melalui kekuasaanNya. Banyak cara Allah membaguskan hamba-hambaNya. Banyak cara Allah menjadikan seorang hamba terangkat tinggi karena niatnya melalui anak-anak yang mereka lahirkan. Padahal mata kita yang penuh teori, semula memandang proses perkembangan anak-anak itu sebagai kesalahan. Sungguh sangat sedikit ilmu yang dimiliki manusia.
Awalnya dari niat.
Maka atas dasar apakah engkau menikahi calon istrimu? Jika gadis yang engkau pinang itu cantik, apakah engkau menikahinya karena mengharap keindahan dan wajah mengesankan? Ataukah, karena khawatir kecantikannya dapat membuatmu terjerumus kepada maksiat, lalu engkau berusaha dengan sungguh sungguh untuk segera menikahinya demi menjaga kehormatan farjimu berdua.
Beda sekali antara keduanya. Yang pertama dapat mendatangkan kekecewaan setelah menikah. Pernikahan sangat sedikit barakahnya. Sedang yang kedua, insya Allah akan dipenuhi barakah dari Allah yang terus melimpah.
Ketika engkau melihat calon istrimu memiliki ilmu agama yang bagus, atas dasar apakah engkau memilihnya? Ketika engkau melihat calon istrimu berkecukupan, atas dasar apakah engkau meminangnya? Ketika engkau melihat calon istrimu berkekurangan, atas dasar apakah engkau memintanya kepada kedua orangtuanya.
Awalnya adalah niat.
Maka aku bertanya kepadamu wahai calon istriku, apakah yang menggerakkan hatimu untuk mempercayakan kesetiaanmu kepadaku? Aku bertanya padamu karena niat akan menetukan apa yang akan engkau dapatkan kelak setelah kita menikah, dan kelak setelah kita tiada. Ketika kita sama sama menjadi jenazah.
Niatmu akan mempengaruhi bagaimana engkau merasakan arti saat-saat berdekatan, keindahan saat bersama, keadaan hati saat menghadap masalah, sampai bagaimana engkau merasakan arti darah setetes ketika melahirkan, juga ketika harus bangun saat anakmu terbangun dari tidurnya.
Semua berawal dari niat. Niat ketika menerima pinangan, niat ketika memasuki jenjang pernikahan, niat ketika menghabiskan saat-saat berdua, dan niat ketika melakukan berbagai hal. Niat-niat itu bisa menambah barakah dan memperbaiki kesalahan niat sebelumnya, bisa mengurangi barakah dari apa yang sebelumnya telah engkau terima atau engkau berikan kepada suami.
Awalnya dari niat.
Aku mendengar, kata Umar bin Khaththab r.a, Rasulullah Saw bersabda, “ Sesungguhnya amal perbuatan itu dinilai hanya berdasarkan niatnya. dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan, barangsiapa hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka nilai hijrahnya adlah kepada Allah dan RasulNya. dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau perempuan yang ingin dinikahinya maka nilai hijrahnya adalah apa yang menjadi tujuan hijrahnya." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi dan An Nasa’i) [*]
Awalnya dari niat.
Niat yang baik dan jernih akan mendekatkan kepada barakah. Semakin baik niat kita, insya Allah semakin barakah rumah tangga kita, sekalipun kita tidak bisa menunaikan seluruh perkara yang kita niatkan dengan sebaik-baiknya. Bahkan kalau kita tidak bisa mengamalkan apa yang sudah kita niatkan dengan sungguh-sungguh, maka bagi kita apa yang kita niatkan. Allah menyempurnakan apa yang kita niatkan, sekalipun kita tidak bisa melaksanakan.
Tetapi beda sekali antara niat yang sungguh-sungguh dengan mengada-adakan niat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari ghurur (terkelabui). Kita menyangka punya niat, padahal hanya angan-angan yang kemudian kita jelaskan dengan akal.
Adapun jika engkau telah berniat dengan niat yang baik, maka berbahagialah, sebab Rasulullah Saw, bersabda, “Niat orang mukmin lebih baik daripada perbuatannya. Sementara niat orang fasik lebih buruk daripada perbuatannya”
Maka marilah kita niatkan satu kebaikan didalam pernikahan. Niat mendidik anak dengan sebaik-baik pendidikan. Niat menetapkan satu sunnah hasanah dalam keluarga. Niat untuk melaksanakan perbuatan yang mendatangkan barakah bagi kita.
Satu niat saja yang sungguh-sungguh ingin kita kerjakan, insya Allah menjadi pintu barakah, kebaikan berlipat-lipat yang terus berkembang. Hanya Allah yang berhak menentukan kebaikan apa yang dikaruniakan kepada kita di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi kebaikan. Maha Suci Allah dari segala keburukan yang diangan-angankan oleh akal yang keruh.
Hujan itu mensucikan bumi
Adakalanya niat kita menikah masih belum bersih, kemudian Allah memberikan kasih sayangNya. Allah memberikan berbagai keadaan sehingga kita mensucikan niat kita. Allah menurunkan peristiwa-peristiwa sehingga kita mengetahui kekotoran niat kita yang selama ini tersembunyi dari pengetahuan kita sendiri maupun orang lain.
Adakalanya niat seseorang sudah bersih, kemudian Allah menguji kesungguhan niatnya. Allah memberikan ujian, sehingga tampak apakah ia bersungguh-sungguh dengan niatnya. Sehingga tampak apakah ia tetap berpegang pada tali-Nya disaat menghadapi kesulitan. Sehingga semakin kokoh niatnya kalau ia tetap memegangi niatnya. Yang demikian ini insya Allah akan membuat niatnya lebih dekat kepada barakah dan tidak mudah meluntur oleh keadaan-keadaan sesudah menikah.
“Dan Allah berbuat demikian untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada didalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati” (Ali Imran : 154)Sebagian orang ridha terhadap apa yang terjadi, sehingga Allah menambah kemulian dan barakahnya. Sebagian merasa kecewa kepada Allah. Sebagian lagi merasa kecewa, kemudian memperbaiki hati setelah menyadari kesalahan-kesalahannya.
Adakalanya Allah mensucikan bumi dengan menurunkan hujan. Dalam hujan ada kilat dan petir. Sebelum hujan ada mendung tebal yang mebuat gerah orang-orang dimuka bumi. Kita sering tidak bisa membedakan antara panasnya terik matahari dengan gerahnya awan tebal yang mengawali hujan penuh rahmat.
Pensucian niat bisa juga terjadi karena bertambahnya ilmu. Ketika seseorang memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai agamanya, akhirnya ia mengenali kekeruhan-kekeruhan niat yang selama ini tidak diketahuinya.
Mudah mudahan Allah memperbaiki niat kita. Mudah-mudahan Allah melepaskan kita dari ghurur (terkelabui) atas perkara-perkara yang kita sangka niat kita, padahal hanya angan-angan yang kita jelaskan dengan akal saja.
Aku mengingatkan pada diriku sendiri dan orang -orang yang aku cintai, mintalah kepada Allah penjagaan niat dari kotoran-kotoran yang tidak engkau ketahui dan kebusukan yang tidak mampu engkau hilangkan sendiri saat ini. Semoga Allah mengampuniku (kita) dan memperbaiki niatku (kita).
Wallahu ‘alam bishawab.
(reposted @ http://bintangbirulangit.wordpress.com/2010/09/02/awalnya-dari-niat/)
*****************************************************************
Sebuah tadzkiroh akan pentingnya meluruskan niat di setiap langkah (bukan hanya pada topik di atas saja ya...^^).
Semoga kita termasuk orang2 yang senantiasa mengawali setiap episode hidup kita dengan niat karena Allah semata, yang tak henti memperbarui niat kita selama 'perjalanan', juga memurnikan niat di akhir setiap 'kisah'. Aamiin...
[*] versi lengkapnya :
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
Arti Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)
14 Oktober 2010
Bangunan itu...

seluas apa ia?
setinggi apa ia?
sekokoh apa ia?
adakah ia makin megah?
atau malah makin reyot?
bicara tentangnya, tentu tak lepas dari bicara struktur, fungsi, desain, bahan baku, juga perabot di dalamnya..
ah,jadi ingin bertanya ulang...
dulu,,,
untuk tujuan apa ia dibuat?
bagaimana ia dibangun?
dengan bahan seperti apa ia dibangun?
lalu kini,,,
adakah kau jaga kekokohannya?
adakah kau jaga keindahannya?
atau jangan-jangan kaulah yang tanpa sadar berkontribusi merobohkannya tanpa sedikitpun ada niat untuk merenovasi?
meski selama ini senantiasa beraktivitas di dalamnya,,
dimana kesejukan, keteduhan, kehangatan, kenyamanan tak henti terkecap...
tak ada salahnya jika sesekali kita bertanya,
"bagaimana kabar bangunan itu, sekarang?"
adakah yang bersedia membagi jawab??
*******************************************************
ketika keresahan akan kondisi 'D' mengusik pikir...
16 Februari 2010
Mengapa Dahi Ayah Berkerut?
Suatu ketika, seorang anak wanita bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut dan badannya yang bungkuk, disertai suara batuk-batuk.
Anak wanita itu bertanya pada ayahnya:
“Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut dan badan Ayah kian bungkuk ?” Demikian pertanyaannya, ketika ayahnya sedang santai di beranda.
Ayahnya menjawab : “Sebab aku laki-laki, nak.” Itulah jawaban ayahnya.
Anak wanita itu berguman : ” Aku tidak mengerti, Ayah.”
Jawaban ayahnya itu membuatnya tercenung penuh rasa penasaran.
Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanitanya itu. Kemudian ditepuknyalah bahunya sambil berkata :
“Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki.”
Bisikan ayahnya tersebut membuat anak wanita itu bertambah bingung.
Karena penasaran, anak wanita itu menghampiri ibunya, lalu bertanya :
“Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut dan badannya kian bungkuk ? Tapi Ayah sepertinya tidak mengeluh dengan keadaannya itu. Tidak ada keluhan dan rasa sakit.”
Ibunya menjawab: “Anakku, seorang laki-laki yang benar-benar bertanggung-jawab terhadap keluarga memang akan mengalami hal demikian.”
Hanya itu jawaban sang Bunda.
Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi sejauh ini dia tetap belum menemukan jawaban atas rasa penasarannya.
Hingga pada suatu malam, sang anak wanita itu bermimpi.
Dalam mimpi itu dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat yang merupakan jawaban atas rasa penasarannya selama ini.
“Saat Ku-ciptakan laki-laki, Aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga.
Dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi.”
“Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya dan keperkasaannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya.”
“Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari nafkah yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun mungkin dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya yang tidak puas atas hasil jerih payahnya itu.”
“Kuberikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah. Demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari. Demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup dan kedinginan karena tersiram hujan serta terterpa hembusan angin. Dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya. Yang selalu dia ingat adalah di saat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya.”
“Ku-berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun di setiap perjalanan hidupnya dia diterpa keletihan dan kesakitan.”
“Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha, berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya dalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidak jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal kasih sayangnya itu pula yang memberikan perlindungan rasa aman pada saat anak-anaknya tertidur lelap. Sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan mengasihi sesama saudara.”
“Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan bahwa istri yang baik adalah istri yang setia terhadap suaminya. Istri yang baik adalah istri yang senantiasa menemani dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada istrinya, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi.”
“Ku-berikan kerutan di wajahnya untuk menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikir dan tenaganya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup bahagia. Badannya yang bungkuk adalah bukti bahwa sebagai laki-laki yang bertanggung-jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya.”
“Ku-berikan kepada laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki.”
Terbangunlah anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa. Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdoa.
Ketika ayahnya berdiri, anak wanitanya itu merengkuh dan mencium telapak tangan ayanya.
“AKU MENDENGAR DAN MERASAKAN BEBANMU, AYAH.”
Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi kehebatan tangan Ayah…
06 Februari 2010
Air Mata Wanita
Suatu ketika, ada seorang anak lelaki yang bertanya kepada ibunya.
"Ibu, mengapa ibu menangis?"
Ibunya menjawab, "Sebab ibu wanita."
Dia tidak mengerti, kata si anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.
"Nak, kamu memang tidak akan mengerti..."
Kemudian, anak itu bertanya kepada ayahnya.
"Ayah, mengapa ibu menangis?"
Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan."
Hanya itu jawapan yang dapat diberikan oleh ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Pada suatu malam, ia bermimpi dan mendapat petunjuk daripada Allah mengapa wanita mudah sekali menangis.
Saat Allah menciptakan wanita, Dia membuat menjadi sangat penting.
Allah ciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya. Walaupun, bahu itu cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tidur.
Allah berikan wanita kekuatan untuk melahirkan zuriat dari rahimnya. Dan sering kali pula menerima cerca daripada anaknya sendiri.
Allah berikan ketabahan yang membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah di saat semua orang berputus asa.
Wanita, Allah berikan kesabaran, untuk merawat keluarganya walau letih, sakit, lelah dan tanpa berkeluh-kesah.
Allah berikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya, dalam situasi apa pun. Biarpun anak-anaknya kerap melukai perasaan dan hatinya.
Perasaan ini memberikan kehangatan kepada anak-anaknya yang ingin tidur. Sentuhan lembutnya memberi keselesaan dan ketenangan.
Dia berikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa kegentiran dan menjadi pelindung baginya. Bukankah tulang rusuk suami yang melindungi setiap hati dan jantung wanita?
Allah kurniakan kepadanya kebijaksanaan untuk membolehkan wanita menilai tentang peranan kepada suaminya.Seringkali pula kebijaksanaan itu menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap saling melengkapi dan menyayangi.
Dan akhirnya, Allah berikannya airmata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Allah berikan kepada wanita, agar dapat digunakan di mana ia inginkan.
Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, airmata ini "airmata kehidupan".
Wallahu A'lam...
24 Januari 2010
Segores Pengingat dan Penyemangat

apa yang baik menurut pandangan manusia belum tentu yg terbaik menurut ALlah...
Subhanallah....
Setiap apa yang 'diucapkan'-Nya, tiada pernah tidak terbukti!!!
Manusia selalu punya rencana...
Manusia tentunya telah berusaha...
Do'a dan tawakkal pun teriring bersama dua perkara sebelumnya...
Namun jika ternyata Ia berkehendak lain, adakah kemudian Ia dholim???
TENTU TIDAK!!!
Yakinlah bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi kita, paling tidak untuk saat ini...
Yakinlah bahwa skenario buatan-Nya adalah yang terbaik bagi kita, meski kadang terasa berat diri ini menjalaninya...
Teringat dulu ketika 'kita-kecil' tengah pilek, lalu ada penjual es lewat. Rengekan manja, bahkan tangisan pilu 'kita-kecil' ternyata sama sekali tidak membuat ibu meng-iya-kan permintaan 'kita-kecil' untuk minum es yg sedemikian nikmat itu. ngambek... sedih... kecewa... Yah, itu respon yang normal...
Tapi belakangan baru kita tahu bahwa TERNYATA ketika ibu tidak memenuhi keinginan kita dan -nampaknya- tidak mempedulikan perasaan kita saat itu, tak lain adalah untuk menjaga kita... agar sakit kita tidak bertambah parah... (hmmm...)
Demikian pula dengan yang ALlah lakukan...
Ketika tiba-tiba Ia "menyentakkan hati" kita,,,
tiada lain hanyalah untuk menjaga kita agar tetap berada di jalan-Nya...
agar kita tetap berfokus pada apa yang seharusnya kita fokuskan...
agar kotoran yg menyelimuti hati kita meluruh oleh sentakan itu sehingga hati kita jadi 'cling' kembali... ^^
Wahai manusia...
Kita tak tahu yang terjadi itu berkah atau musibah, yang bisa kita lakukan adalah ber-khusnudhon pada Allah...
Terus jalani hidup dengan Senyum, Sabar, dan Syukur...
Satu lagi, pertahankan sikap OPTIMIS dan REALISTIS...
22 November 2009
Akhwat-akhwat Kepunyaan Allah...


Sang ibu tersenyum sambil tengadah, dan menjawab…
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari wajahnya yang manis dan menawan, tetapi dari kasih sayangnya pada karib kerabat dan orang disekitarnya.
Pantang baginya mengumbar aurat, dan memamerkannya kepada siapapun, kecuali pada pasangan hidupnya.
Dia yang senantiasa menguatkan iltizam dan azzam-nya dalam ber-ghadul bashar dan menjaga kemuliaan diri, keluarga, serta agamanya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lembut dan mempesona, tetapi dari lembut dan tegasnya tutur dalam mengatakan kebenaran.
Dia yang senantiasa menjaga lisan dari segala bentuk ghibah dan namimah. Pantang baginya membuka aib saudara-saudaranya.
Dia yang memahami dan merasakan betul jika Allah swt senantiasa mengawasi segala tindak-tanduknya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari liuk gemulainya kala berjalan, tetapi dari sikap bijaknya memahami keadaan dan persoalan-persoalan.
Dia yang senantiasa bersikap tulus dalam membina persahabatan dengan siapapun, dimana dirinya berada. Tak ada perbendaharan kata “cemburu buta” dalam kamus kehidupannya.
Dia yang senantiasa merasa cukup atas nafkah yang diberikan sang suami kepadanya.
Tak pernah menuntut apa-apa yang tidak ada kemampuan pada sang qowwam ditengah keluarga. Sabar adalah aura yang terpancar dari wajahnya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia menghormati dan menyayangi orang-orang ditempat kerja, tetapi, dari tatacaranya menghormati dan menyayangi orang-orang di rumah dan sekitarnya.
Dia yang jika dilihat menyejukkan mata dan meredupkan api amarah.
Baitii Jannatii selalu berusaha ia ciptakan dalam alur kehidupan rumah tangga.
Totalitas dalam menyokong dakwah suami dan berdarma bakti mengurus generasi penerus yang berjiwa rabbani.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang memuji dan menaruh hati padanya, tetapi dilihat dari kesungguhannya dalam berbakti dan mencintai Allah, Rasulullah, dan pecintanya.
Pantang baginya mengikuti arus mode yang melenakan dan menyilaukan mata.
Dia yang selalu menghindari sesuatu yang syubhat terlebih hal-hal yang di haramkan-Nya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari pandainya dia merayu dan banyaknya air mata yang menitik tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan.
Dia yang pandai mengatur, membina dan menjaga keharmonisan rumah tangga.
Pancaran kasih sayang melesat tajam dari tiap nada bicara yang keluar dari bibirnya.
Dia yang memiliki perasaan yang tajam untuk selalu berbuat ihsan kala ditempat umum maupun kala sendiri.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari tingginya gelar dan luasnya wawasan tetapi tingginya ghirah untuk
menuntut ilmu dan mengamalkan syariat secara murni dan berkesinambungan…
Setelah itu, ia bertanya kembali…
“Adakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, ibu?”
Sang ibu menjawab: “Adakah kau meragukan kesalehan para ummahatul mukminin?
Contohlah para istri dan puteri Rasulullah saw, bagaimana mereka bertindak tanduk, bagaimana mereka menyokong pasangan hidup mereka dalam menghadapi badai kehidupan, bagaimana mereka berdakwah, bagaimana mereka membentuk dan membina angkatan generasi rabbani…
Tauladanilah mereka…
Khadijah, Aisyah, Hafsah, Maimunah, Shafiyah, Fatimah Az-Zahra, dan para shahabiyah radiyallohu’anha ajma’in. Merekalah sebaik-baik perhiasan dunia itu. Ingatkah kau sabda Rasulullah saw:
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)
Dan juga firman-Nya yang mulia:
“…Dan oleh sebab itu, wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara (dirinya dan harta suami) ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah (menyuruh) memeliharanya…” (QS. An-Nisaa’: 34)
Pelajarilah ini. Sambil memberinya sebuah buku, Sirah Shahabiyah. Pelajari dan amalkan. Tempalah dirimu supaya menjadi seperti mereka. Niscaya engkau akan menjadi akhwat sejati. Muslimah yang membuat iri dan cemburu para bidadari. Niscaya menjadi dambaan bagi mereka insan berjiwa rabbani. Menjadi dambaan mereka para hamba Allah yang tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia yang semu.
Niscaya menjadi dambaan bagi mereka pemilik ruh dakwah dan jihadiyah.
Jika tidak demikian, tidak ada yang bisa menjaminmu untuk masuk kedalam surga-Nya.
Adakah surga dan kemuliaan itu dapat dibeli dengan banyaknya senda gurau dan gelak tawa? Sekali-kali tidak wahai anakku! Surga hanya dapat kau beli dengan kesungguh-sungguhan dalam beramal dan keikhlasan yang sangat untuk semata mengharap ridha Allah ta’ala.
Takutlah engkau pada suatu hal yang telah diramalkan Rasulullah saw dalam sabdanya:
“Aku diperlihatkan neraka ternyata kebanyakan penghuninya wanita yang kufur.
Para sahabat bertanya: ‘Apakah dia kufur kepada Allah?’ Rasulullah menjawab: ‘Tidak’. Mereka hanya kufur kepada suaminya, mereka mengingkari kebaikannya. Jika ia berbuat baik terhadap salah seorang diantara mereka, mereka menyanjungnya. Kemudian apabila terhadap sedikit saja kejelekan, ia berkata: ‘Aku belum pernah melihatmu berbuat baik terhadapku.” (HR. Bukhari)
Jagalah dirimu supaya tidak termasuk dalam golongan mereka. Hati-hatilah terhadap perbuatan kufur yang tidak engkau sadari.
“Camkanlah itu wahai anakku!” kata sang ibu.
Kepalanya menunduk. Tangannya mengusap ujung matanya dengan sepotong sapu tangan warna biru. Warnanya telah kabur. Sekabur pandangan matanya. Sang anakpun segera mendekap ibunya. Beberapa tetes embun bening, mengucur dari ujung matanya.
Subhanallah...
Semoga kita(para wanita) bisa menjadi seperti itu...
11 November 2009
Syukur

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
[WS Rendra]
>>>> itu makna 'titipan' bagi seorang "burung merak"....Lalu bagaimana dengan kita???? Sudahkah kita bijak memperlakukan 'titipan'-Nya???
SYUKUR...
Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dikenal sebagai abdan syakuura (hamba Allah yang banyak bersyukur). Setiap langkah dan tindakan beliau merupakan perwujudan rasa syukurnya kepada Allah.
Abu Hurairah Radhiallaahu anhu menceritakan: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam biasa mengerjakan shalat malam hingga membengkak kedua telapak kakinya. Ada yang bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, mengapa Anda melakukan sedemikian itu, bukankah Allah telah mengampuni segala dosa Anda yang lalu maupun yang akan datang?” beliau menjawab: “Bukankah selayaknya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?” (HR. Ibnu Majah).
Kalau Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam sendiri sebagai orang yang ma'sum atau terpelihara dari dosa saja merasa takut tidak termasuk kedalam golongan orang-orang yang bersyukur, apakah lalu kita yang berlumuran dosa ini tidak merasa malu untuk menerima pemberian-Nya tanpa mau bersyukur kapada-Nya? Sebagai orang mukmin kita tentu tidak ingin mengabaikan perintah Allah, sebagai mana tersirat dalam Al-Qur'an Surat An-Nahl;144, yang artinya "Bersyukurlah terhadap nikmat Allah, jika kamu sungguh-sungguh menyembah kepada-Nya".
Adapun tentang cara-cara bersyukur itu ada tiga macam, yaitu:
- bersyukur dengan hati. Maksudnya, ia merasa yakin bahwa segala macam kenikmatan itu datangnya dari Allah.
- Bersyukur dengan lisan. Maksudnya dengan memperbanyak bacaan Hamdalah (Al-Hamdulillah).
- Bersyukur dengan semua anggota badan. cukup dengan meletakkan nikmat Allah secara 4S ( Sesuai dengan fungsi, Sesuai lokasi, Sesuai situasi, Secara optimal)
"Dan apa saja ni'mat yang ada padamu, maka dari Allahlah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemadhorotan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan".(Al-Nahl:53)
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebutkannya (bersyukur)".(Adh-Dhuhaa:11)
Suatu ketika Nabi memengang tangan Muadz bin Jabal dengan mesra seraya berkata :
"Hai Muadz, demi Allah sesungguhnya aku amat menyayangimu". Beliau melanjutkan sabdanya, "Wahai Muadz, aku berpesan, janganlah kamu tinggalkan pada tiap-tiap sehabis shalat berdo'a : Allahumma a'innii `alaa dzikrika wa syukrika wa husni `ibaadatika (Ya Allah,tolonglah aku agar senantiasa ingat kepada-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan baik dalam beribadat kepada-Mu)".
Wallahu a'lam...
-dari berbagai sumber-
Tuhan Sembilan Senti
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.
Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.


