Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan

12 Mei 2011

Tentang seorang wanita biasa


Mereka bercerita tentang pesan-pesan Ibunda mereka. Luar biasa!!! 
Bunda2 mereka memang benar2 luar biasa...

Tapi, buatku Ibuku yang terbaik sedunia...

Tak banyak kata-kata dahsyat yang terucap dari mulutnya..
Tak banyak masa kecilku yang dibersamainya, sebab beliau juga terikat tanggungjawab di tempat kerja...
Tak jarang aku dimarahi juga dicubit olehnya, sebab kebandelan masa kecilku...
Tak jarang teguran lembut namun pedas mampir di telingaku, sebab aku terlalu asyik 'bermain' di luar rumah bahkan ketika anak2 (remaja) lain telah bersiap untuk makan malam...

Beliau memang tak banyak berucap, cuma menunjukkan padaku dengan berbuat...
Beliau memang tak banyak bersamaku ketika matahari bersinar, namun senantiasa membersamaiku dalam jaganya, pun dalam untaian doanya..
Beliau memang tegas dan keras, namun kelembutan hatinya tetap terpancar meski wajahnya memerah menahan marah. Nampaknya hal itu pula-lah yang menempaku jadi seperti sekarang ini...
Beliau memang bak 'satpam' buatku, namun hal itu tak menyurutkan kepercayaan yang diberikannya padaku untuk bebas berbuat apapun yang membuatku 'senang'...

Kini wanita hebatku itu tak lagi seperti dulu...
Kini beliau selalu menyambut hadirku dengan senyuman manisnya, meski ku tahu tak mudah baginya untuk menyunggingkan senyum termanisnya seperti dulu...
Kini beliau selalu ada di rumah, 24 jam dalam 7 hari siap mengurus kami, meski geraknya tak lagi segesit dulu...

Terima kasih Ya Allah, 
Kau masih memberikan kesempatan beliau membersamai kami..
Kau masih memberikan kesempatan bagi beliau untuk menggugurkan sedikit-demi sedikit keping2 dosanya, lewat ujian kesabaran ini..

Terima kasih Ya Allah,
Kau menghadiahiku seorang Ibu terbaik sepanjang masa...
Seorang wanita sederhana yang tampak sangat biasa, 
yang hanya berbuat dalam diamnya,
yang lembut dalam kerasnya, 
yang tegar dalam rapuhnya, 
yang gemar berucap "Gusti ora sare" dalam setiap ketidakadilan yang ditemuinya..

Aku cuma bisa berucap,
Semoga Ibu makin disayang Allah...
Semoga Allah memberiku (dan adik2ku) kesempatan untuk membahagiakannya...
dan semoga kami akan tetap berkumpul 'serumah' dalam surga-Nya kelak...
Aamiin...

source

01 April 2011

d'Pawon series : Crème Fams (Crème Bluree & Crème Caramel)


Wait, apa itu 'crème bluree' dan 'crème caramel'?
Dua makhluk itu merupakan dua dari sekian banyak menu dessert alias hidangan penutup.
hmm... honestly, saya juga belom pernah nyobain. Tapi kalo dilihat dari penampakannya.. hmm, yummi...
Terus kalo dilihat dari ingredient, sweety.. hehe (doh, mulai hipersalivasi nih!)

Resep ini hasil temuan saya di fimela.com. Yang bagi-bagi resep namanya Chef Sandra. Dua dessert terkenal ini, Crème Brulee dan Crème Caramel, berasal dari satu resep praktis, Crème Anglaise. here we go... ^_^

Crème Anglaise

Bahan :
1/2 mangkuk susu
1/2 mangkuk cream
1/2 sendok teh vanilla bubuk
3 butir telur (ambil kuningnya saja)
3 sendok makan gula

Cara membuat :
Tuangkan susu dan krim di panci ukuran sedang,
Masukkan vanilla,
Biarkan sampai mendidih.
Aduk kuning telur dan gula di mangkuk sampai rata,
Sedikit demi sedikit tambahkan adonan susu dan krim ke dalam mangkuk.
Tuangkan kembali ke dalam panci, aduk dengan api kecil sampai adonan mengental, sekitar 5 menit (jangan sampai mendidih)
Tuangkan ke mangkuk porselen.

Crème Caramel
Larutkan 200gram gula dengan setengah mangkuk air,
Panaskan dengan api sedang sampai kecoklatan dan wangi karamel,
Tuangkan ke mangkuk porselen sedikit demi sedikit,
Lalu tuangkan creme anglaise keatasnya.
Masak dengan dipanggang di oven selama 45 menit (panas 200'C)

Crème Caramel

* the other recipe & video

Crème Brulee
Tuangkan creme anglaise ke mangkuk porselen,
Masak dengan dipanggang selama 45 menit (panas 200'C).
Dinginkan sebentar, kemudian masukkan ke lemari es selama kurang lebih 6 jam.
Sebelum disajikan, taburi bagian atas dengan gula,
Dan tambahkan cognac (optional),
Lalu bakar dengan torch sampai atasnya kecoklatan membentuk karamel.

Crème Bluree

*think..think.. kalo nggak punya torch kira-kira bisa diganti pake apa ya?? Dipanggang di rak teratas oven tangkring bisa nggak ya? Ada yang mau kasih saran??

sumber gambar : here & here

19 Januari 2011

Antara Sleman dan Magelang...

Bismillah...

Kegiatan rutin saya setiap akhir pekan adalah kembali ke kampung halaman. Maklum, perantau dari daerah sebelah.. Kalo nggak pulang malah kesannya rada gimanaa gitu. Lagipula, 1 or 1,5 jam perjalanan juga sampe koq..

Seperti biasa, transJogja disambung bus jurusan Yogya-Semarang senantiasa menjadi tumpangan saya. Bus ekonomi nan nyaman.. terbukti dari banyaknya (baca: berjejal) penumpang dengan berbagai macam profesi, beragam bawaan, serta beraneka aroma. Benar2 Indonesia.. ^_^

Seperti biasa pula, saya selalu membawa bekal seperti buku, majalah, atau earphone (utk ditencepin ke HP) tak lain untuk teman perjalanan saya. Kadang memang jumpa 'teman' yang bisa diajak ngobrol sepanjang perjalanan. Namun, menurut pengamatan saya setiap perjalanan sore sangat jarang saya dapati orang2 yang suka ngobrol. Hmm.. mungkin mereka sudah lelah, atau pikirannya sudah tidak lagi di bus tapi sudah melayang ke rumah.

Sore itu (16/1) saya agak was-was, adakah perjalanan pulang saya akan lancar atau sedikit melambat? Khawatir kalau harus putar jalur akibat Kali Putih meluap lagi, mengingat hujan setia mengguyur Jogja dan kawasan merapi hampir sepanjang hari. Tapi Alhamdulillah, bus saya cuma harus memperlambat jalannya saja ketika melintas di jalanan Jumoyo.

Dalam perjalanan sore itu, ada tiga hal yang menarik perhatian saya, yaitu :
1. buku bacaan yang saya bawa
2. seorang ibu yang menggendong anaknya
3. langit di ufuk barat

Tentang buku bacaan saya, ya.. buku ringan sebenarnya. Ringan massanya, ringan bahasanya, ringan pula bahasannya. Tapi yang membuat saya tertarik adalah saking ringan & saking biasanya yang dibahas, jadi mengingatkan saya akan banyak hal yang -bisa jadi- selama ini kurang terperhatikan. Buku setebal 228 halaman terbitan "Anomali" ini berisi sindiran-sindiran buat pembacanya. Saya cuma bisa senyum-senyum, menelan ludah, sambil terus melahap lembar demi lembarnya. Penasaran? silakan aja kalo mau baca juga.. Judulnya "Jangan Sadarin Jilbaber". 

Bagi yang belum baca, boleh cari di toko buku terdekat/ agennya, atau pinjang ke yang punya tuh buku. Nah, bagi yang udah pernah baca, semoga ndak capek baca lagi..
Bukankah yang namanya nasihat itu terus dibutuhkan? 
Bukankah yang namanya pengingat itu juga tak mungkin tak dibutuhkan? 
Manusia 'kan tempatnya lupa... So..^_^

Then... Tentang seorang Ibu dengan anaknya. Di sela-sela asyiknya membaca, fokus saya terpecah oleh pembicaraan seorang ibu dan kondektur bus yang nampaknya agak sedikit 'panas'.
Secara kasat mata, ibu tersebut seperti para ibu pada umumnya. Kalo secara tak kasat mata, ya saya ndak tahu lah.. Tapi intinya, beliau mengingatkan saya pada karakter khas seorang ibu, memberikan yang terbaik untuk buah hatinya
Beliau memilih untuk berdiri meskipun ada beberapa bangku kosong di sekeliling tempat beliau berpijak.  Putri kecil dalam gendongannya selalu menangis setiap kali ibunya menempelkan pantatnya ke kursi. Alhasil, beliau terus berdiri sepanjang jalan Jogja-Magelang. Beberapa kali beliau harus merubah posisi berdirinya, sebab ada orang yang hendak lewat. Berulang kali pula beliau harus menelan pahitnya cacian dari pak kondektur, sebab 'tak mau diatur' (baca: tak mau disuruh duduk). 

Yang membuat saya gemas di sini adalah, kenapa ibu itu tidak mengatakan dengan jelas bahwa anaknya tidak mau diajak duduk. Setiap kali diminta duduk (dari nada halus hingga kasar) oleh pak kondektur yg terus mondar-mandir, beliau cuma menjawab "wong mboten purun kok" (artinya kira2: "tidak mau kok"), tanpa memperjelas siapa yang sebenarnya tidak mau.. dia atau anaknya. Itu beliau lakukan berkali-kali. Jadilah pak kondektur ngedumel sepanjang jalan, yang tentu saja omelannya dialamatkan kepada si ibu tadi.

Aah... ibu itu... 
Saya berpikir, kalimat itu memang sengaja dipilih oleh ibu itu atau asal menjawab saja ya?
Maksud saya begini.. Jika beliau memang asal menjawab, ya mungkin memang  mau sekenanya saja mencari kata. Biar cepat terjawab, begitu...
Tapi, kalau sengaja memilih kalimat tersebut tanpa menunjuk bahwa anaknya-lah yang tidak mau diajak duduk, saya cuma bisa berucap Subhanallah... Jika demikian, berarti 'kan beliau tidak ingin anaknya 'dipersalahkan' atas kondisi ini. Cara kasarnya, biarlah segala kesalahan ditanggung ibu. hmmm....

Selanjutnya, tentang langit di ufuk barat...
Belum lama lepas dari daerah Salam yang memaksa -hampir semua- kendaraan untuk jalan merayap, langit yang memayungi bus saya mulai gelap. Senja menjelang.. Petang segera datang.. Pencahayaan di bus-pun kian berkurang.. Aktivitas membaca terpaksa saya hentikan, tak ingin rabun ini bertambah.. >.<"
Sedikit stretching, lalu tengak-tengok ke kanan dan ke kiri... Siapa tahu ada yang menarik..
Benar saja, saat menoleh ke kiri, memandang keluar jendela... Subhanallah... jauh di ufuk barat sana, langitnya cantiiiik sekali. Kombinasi warnanya itu... mulai dari warna hitam gelap (awan plus karena malam tiba), lalu biru gelap pula (biru dongker, kata orang), disambung biru langit (warnanya lebih muda dari sebelumnya), makin ke barat langitnya berwarna putih terang, dan di batas cakrawala ada warna orange menyala. Silakan bayangnya keindahannya... hehe.. 
Jarang saya jumpai lukisan langit seperti senja itu. Biasanya 'kan warnanya 'belang-belang', jadi biru-putih-orange-nya campur-campur begitu, bukan bergradasi yg bertingkat-tingkat seperti yang saya ceritakan. Sayang,, saya tidak sempat mengabadikan keindahan langit ufuk barat sore itu, saking asyiknya memandangi 'mereka'...
Berharap jumpa lembayung senja dengan komposisi serupa di lain hari.. Aamiin..



Sekian catatan perjalanan (yang tertunda) kali ini.. ^__^
Semoga kita tak lelah menjadi pemulung (pemungut ulung) setiap hikmah yang terserak di sepanjang jalan yang kita lalui. Mari lebih membuka mata, telinga, dan hati untuk terus mengisi 'teko diri', biar lebih banyak yang bisa kita 'tuang', lebih banyak yang bisa kita bagi..

28 Desember 2010

Ketika cinta menyapa...


Berada di tengah-tengah orang yang saling mencintai tentunya merupakan sebuah nikmat. Dan kali ini, cinta-cinta itu bukan berupa cinta kepada sesama manusia, bukan berupa cinta kepada saudara seiman, melainkan cinta kepada pasangan jenis. Yups, kali ini saya ingin bicara mengenai cinta dalam lingkup sempit, cinta antara dua insan yang berbeda jenis (baca: laki-laki dan perempuan) namun diciptakan untuk saling berpasang-pasangan. Makanya saya menyebutnya pasangan jenis, bukan lawan jenis...^_^

Banyak rupa yang akan kita jumpai pada cerita tentang cinta antara laki-laki dan perempuan. Bagi masyarakat kita pada umumnya, cinta antara pasangan jenis biasa diejawantahkan dalam ikatan pernikahan dan pacaran. Pernikahan adalah bagi mereka yang dianggap sudah serius dan 'cukup umur', sedangkan pacaran bagi mereka yang merasa belum siap untuk mengikatkan diri secara serius. Merupakan hal yang lumrah dalam pandangan masyarakat, ketika dua anak manusia berjalan berdua, bergandengan tangan, dan bermesraan meskipun tanpa adanya ikatan pernikahan. Dan itulah yang membuat hati miris.. Bagaimana mungkin sebuah perkara yang jelas-jelas tidak halal dianggap wajar, bahkan dihalalkan? (aah, bisa panjang bahasannya).


Hari-hari penuh cinta

Belum lama ini, beberapa sahabat telah sukses untuk mencapai sebuah titik dimana perjuangan hidup yang sebenarnya dimulai. Bagi mereka, saya ucapkan Barokallahulakuma wabaroka'alaykuma wajama'abainakuma fii khoir... Inilah cara terbaik dan terindah untuk merayakan cinta. Selamat berjuang sahabatku.. semoga sakinah, mawadah, rahmah, dan barokah sukses kalian raih. Aamiin..

Masih dalam kurun waktu belakangan ini, beberapa sahabat ternyata juga tengah mendapatkan anugerah. Sebuah rasa luar biasa yang mampu mengubah segala hal jadi indah dalam pandangan. Sebuah rasa yang mampu memekarkan bunga-bunga di taman hati. Sebuah rasa yang mampu menghangatkan sudut-sudut hati yang lembab. Hingga ia mampu menggelorakan semangat diri untuk terus memperindah, mewangi, juga mendesak-desak diri untuk terus memberikan yang terbaik bagi ia yang tercintai. 'yang tercintai'?? Ya!! itulah kenyataanya. Bukan 'yang dicintai'. Sebab yang dialami sahabat saya adalah 'jatuh cinta', sebuah kerja yang tak disengaja. Beda halnya jika ia melakukan kerja 'bangun cinta', maka objeknya menjadi 'yang dicintai'.

Banyak hal lucu yang saya amati dari mereka. Ada yang jadi rajin mempercantik diri (mungkin untuk menarik perhatian 'yang tercintai'). Ada yang jadi rajin ikut kegiatan dimana ada 'yang tercintai' di sana. Ada yang jadi menyukai apa-apa yang disukai oleh 'yang tercintai'. Ada yang jadi hobi cerita sambil berbinar-binar setiap habis berjumpa dengan 'yang tercintai'. Ada pula yang jadi rajin menguntit 'yang tercintai', baik dengan penguntitan secara langsung maupun tak langsung (misal : nguntit akun fb ato twitter ato blog si-'yang tercintai'). Dalam kondisi seperti itu, saya cuma bisa geleng-geleng kepala sambil senyum-senyum sendiri. Tentu saja saya berkomentar yang isinya mengingatkan agar tak berlebihan dan 'membangunkan' mereka bahwa ada Mr. Right yang masih dalam genggaman-Nya, sambil memohonkan agar mereka tetap dalam naungan ridho-Nya.


Ketika cinta menyapa para 'penggiat kebaikan'

Ada lagi kondisi serupa tapi tak sama yang dialami oleh sahabat saya yang lain. Sebagai orang yang 'tahu' dan berkomitmen untuk terus menjalankan syariat Islam secara kaaffah, jatuh cinta pada orang yang tidak halal merupakan suatu hal yang tidak mengenakkan. Alih-alih membangkitkan semangat untuk terus bergerak, yang ada malah mengendurkan semangat, menurunkan produktivitas, bahkan bisa membuat diri terjerembab. jatuh... sakit... dan menghadirkan kedukaan mendalam.
Beruntung jika orang tersebut menyadari hadirnya anugerah itu, kemudian memilih untuk me-manage rasa itu  (baca: cinta dalam diam atau mencari jalan yg benar/ nikah) atau melakukan terminasi secara baik-baik. Namun ada pula yang terus-menerus menampik adanya anugerah itu. Hingga pada suatu titik, ada gelombang besar menyeruak dari dalam hatinya yang bisa memporak-porandakan semua, sebab ia terlalu lama memendam tanpa penyelesaian. Kata orang, overload..

Nah, terkait dengan hal ini saya ingin sedikit berbagi. Bagi sahabat yang tengah beroleh anugerah spesial ini... memang benar bahwa jatuh cinta pada orang yang tak halal adalah hal yang tidak dibenarkan. Berusaha membentengi hati dari hal tersebut juga merupakan perkara yang susah-susah-gampang. Namun, rasa itu hadirnya di dalam hati bukan? dan yang punya kuasa atas hati kita adalah Allah... bukan begitu?
Jadi, akankah kita menyalahkan Allah akan hadirnya rasa itu di satu sisi hati kita? atau akankah kita terus-menerus mempersalahkan diri atas 'kelalaian' kita menjaga hati?
Semoga jawaban Anda, "tentu tidak.." ^_^
Maka teruslah meminta pada Allah untuk menetapkan hati kita pada sisi yang kita harap akan menuai ridho-Nya. Berhentilah mempersalahkan diri atas hadirnya anugerah indah ini, dengan catatan segera putar haluan untuk lebih menyibukkan diri pada hal-hal positif yang dapat mengembalikan produktifitas. Jangan lupa hindari hal-hal yang menyebabkan 'kekambuhan'.

Ibarat seseorang yang baru didiagnosa menderita sebuah penyakit, mula-mula ia akan menampik kenyataan bahwa ia sakit (denial). Selanjutnya ia akan mulai menyadari bahwa ia memang sakit, tapi kemudian ia menyalahkan keadaan/orang lain/ diri sendiri atas kondisi yang dialaminya (anger). Setelah itu ia akan mengalami masa-masa dimana ia menerima kondisi, namun masih terus menyesal atas hal tersebut (bargaining). Jika penyesalan berlanjut, putus asa hadir, dan hal terburuk pun bisa terjadi (depression). Sebaliknya, ketika ia menyadari bahwa penyakit itu memang sudah 'jatah'-nya dan orang tersebut sadar bahwa berupaya untuk mengembalikan kesehatannya adalah lebih utama, ia akan menerima penyakit tersebut (acceptance), kemudian bergegas mencari pengobatan.

Demikianlah sahabatku, setiap manusia tentu akan mengalami yang namanya cinta. Dan ketika cinta itu datang pada saat yang tak diharapkan, kemudian ia menyuramkan hari-harimu, ingatlah bahwa 'kedukaan' itu punya fase (denial, anger, bargaining, depression, acceptance). Kenali di fase mana kau berada, lalu bergegaslah menuju fase dimana kau bisa mengobati 'dukamu' itu. Sadarilah bahwa kita adalah manusia, bukan  malaikat yang tak punya dosa. Jadi dalam menyikapi anugerah ini, gunakan cara yang manusiawi. S
emoga Allah senantiasa menetapkan hati-hati kita pada jalan yang menuntun kita pada keridhoan dan barokah-Nya. Aamiin..


22 September 2010

Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha

Bertandang ke masa putih-abu2 itu, membawaku membuka kembali kenangan ketika pertama kalinya mengenal tarbiyah Islamiyah. Yah, bersama sekelompok teman2 yang haus ilmu, berkumpullah kami dalam forum pekanan itu. Seiring berjalannya waktu, muncul keinginan untuk memiliki sebuah nama lain yang biasa kami sebut nama hijrah. Nama-nama yang dipilih biasanya cenderung kearab-arab-an yang juga merupakan nama-nama Ummul mu'minin & Sahabiyah. Tapi sesungguhnya dengan menyandang nama tersebut merupakan sebuah pengharapan sekaligus motivasi untuk terus berbenah hingga kita bisa meneladani si empunya nama itu. Singkat cerita, saya meminta salah seorang kawan (ikhwan) yang saat itu kami tahu memiliki kafaah keislaman yang lebih mumpuni daripada kami, secara beliau pernah 'nyantri' di PP As-Salam Solo semasa MTs dulu. Setelah sejenak berfikir, ia berkata, "Ummu Salamah, tik... iya.. Ummu Salamah cocok untukmu..". Jadilah kupakai nama itu... saat itu aku tak begitu tertarik untuk mencari tahu tentang Ummu Salamah secara mendetail. Yang kutahu, beliau adalah salah seorang istri Rasulullah. Belakangan, baru saya tahu bahwa beberapa karakter yang menonjol pada diri saya ternyata juga merupakan karakter yang melekat erat pada sosok Ummu Salamah. r.a. aah... jadi itu maksud kata "cocok" saat itu... Dan semoga, saya pun benar2 mampu melekatkan kebaikan-kebaikan Ummu Salamah dalam diri saya. amin
 

Well... mari kita simak sekelumit sirah/ kisah hidup Ummu Salamah r.a.
***********************************************************************************

Ummu Salamah adalah seorang Ummul-Mukminin yang berkepribadian kuat, cantik, dan menawan, serta memiliki semangat jihad dan kesabaran dalam menghadapi cobaan, lebih-lebih setelah berpisah dengan suami dan anak-anaknya. Berkat kematangan berpikir dan ketepatan dalam mengambil keputusan, dia mendaparkan kedudukan mulia di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.. Di dalam sirah Ummahatul Mukminin dijelaskan tentang banyaknya sikap mulia dan peristiwa penting darinya yang dapat diteladani kaum muslimin, baik sikapnya sebagai istri yang selalu menjaga kehormatan keluarga maupun sebagai pejuang di jalan Allah.

Nama sebenarnya Ummu Salamah adalah Hindun binti Suhail, dikenal dengan narna Ummu Salamah. Beliau dibesarkan di lingkungan bangsawan dari Suku Quraisy. Ayahnya bernama Suhail bin Mughirah bin Makhzurn. Di kalangan kaumnya, Suhail dikenal sebagai seorang dermawan sehingga dijuluki Dzadur-Rakib (penjamu para musafir) karena dia selalu menjamu setiap orang yang menyertainya dalam perjalanan. Dia adalah pemimpin kaumnya, terkaya, dan terbesar wibawanya. Ibu dari Ummu Salamah bernama Atikah binti Amir bin Rabi’ah bin Malik bin Jazimah bin Alqamah al-Kananiyah yang berasal dari Bani Faras.

Demikianlah, Hindun dibesarkan di dalam lingkungan bangsawan yang dihormati dan disegani. Kecantikannya meluluhkan setiap orang yang melihatnya dan kebaikan pribadinya telah tertanam sejak kecil.

B. Pernikahan dan Perjuangannya
Banyak pemuda Mekah yang ingin mempersunting Hindun, dan yang berhasil menikahinya adalah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, seorang penunggang kuda terkenal dari pahlawan-pahlawan suku Bani Quraisy yang gagah berani. Ibunya bernama Barrah binti Abdul-Muththalib bin Hasyim, bibi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Abdullah adalah saudara sesusuan Nabi dari Tsuwaibah, budak Abu Lahab. Mereka hidup bahagia, dan rumah tangga mereka diliputi kerukunan dan kesejahteraan.

Tidak lama setelah itu, dakwah Islam menarik hati mereka sehingga mereka memeluk Islam dan menjadi orang-oramg pertama yang masuk Islam. Begitu pula dengan Hindun, dia tergolong orang-orang yang pertama masuk Islam, dan bersama suaminya memulai perjuangan dalam hidup mereka.

Orang-orang Quraisy selalu mengganggu dan menyiksa kaum muslimin agar mereka meninggalkan agama Islam dan kembali ke agama nenek moyang mereka. Melihat kondisi seperti itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengizinkan mereka untuk hijrah ke Habasyah, sehingga mereka disebut sebagai kaum muhajirin yang pertama. Mereka menetap di Habasyah, dan di sana Hindun melahirkan anak-anaknya: Zainab, Salamah, Umar, dan Durrah.

Setelah beberapa lama, mereka berniat kembali ke Mekah, terutama setelah mendengar keislaman dua tokoh penting Quraisy, Umar bin Khaththab dan Hamzah bin Abdul-Muththalib. Akan tetapi, ternyata penyiksaan masih terus berlangsung, bahkan bertambah dahsyat. Untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya, Abu Salamah meminta perlindungan dari Abu Thalib (paman Nabi) dari siksaan kaumnya, yaitu Bani Makhzum, dan Abu Thalib menyatakan perlindungannya.

C. Cobaan Datang
Karena orang-orang Quraisy masih saja menyiksa kaum muslimin, akhirnya Allah membuka hati penduduk Madinah untuk menerima Islam. Kemudian Rasulullah mengizinkan kaum muslimin untuk hijrah ke sana, baik secara kelompok maupun perseorangan. Abu Salamah, istri, dan anaknya (Salamah) hijrah ke sana. Di tengah perjalanan mereka dihadang oleh kaum Bani Makhzum (kaumnya Ummu Salamah) yang kemudian merampas serta menyandera Ummu Salamah. Keluarga Abu Salamah (Bani Asad) ikut campur tangan dan mereka menolak menyerahkan Salamah, bahkan si anak dirampas dan dijauhkan dari ibunya. Sedangkan Bani Makhzum menculik Ummu Salamah dan dipenjara. Adapun Abu Salamah dibiarkan ke Yatsrib dengan hati penuh kesedihan karena harus berpisah dengan istri dan anaknya.

Keadaan demikian berjalan kurang lebih setahun lamanya. Ummu Salamah terus-menerus menangis karena kecewa atas perbuatan kaumnya, sehingga akhirnya ada seorang laki-laki dari kaumnya yang merasa iba dan membiarkan Ummu Salamah menyusul suaminya di Madinah. Adapun Bani Asad menyerahkan kembali putranya, Salamah, kepadanya. Akan tetapi, banyak rintangan yang harus dia hadapi, dan berkat keimanan dan keinginan yang kuat, dia mampu mengatasi semua itu dan tiba di Madinah.

D. Pesan Abu Salamah untuk Istrinya
Dalam membela Islam, peran Abu Salamah sangat besar. Dia dikenal berani dalam berperang. Rasulullah menghargainya dengan mengangkatnya sebagai wakil Rasulullah di Madinah ketika beliau pergi memimpin pasukan dalam perang Dzil Asyirah pada tahun kedua hijriah. Abu Salamah ikut dalam Perang Badar dan Uhud. Ketika dalam perang Uhud, Abu Salamah mengalami luka yang cukup parah dan nyaris meninggal, namun beberapa saat kemudian dia sembuh.

Setelah Perang Uhud, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mencrima berita bahwa Bani Asad hendak menyerang kaum muslimin di Madinah. Sebelum mereka menyerang, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. berinisiatif mendahului mereka. Dalam misi ini, beliau menunjuk Abu Salamah untuk memimpin pasukan yang berjumlah seratus lima puluh orang dan di dalamnya terdapat Saad bin Abi Waqash, Abu Ubaidah bin Jarrah, Amir bin Jarrah, dan yang lainnya. Pasukan diarahkan ke Bukit Quthn, tempat mata air Bani Asad. Kemenangan gemilang diraih oleh pasukan Abu Salamah, dan mereka kembali ke Madinah dengan membawa banyak harta rampasan perang. Di Madinah, luka-luka Abu Salamah karnbuh sehingga dia harus beristirahat beberapa waktu. Ketika sakit, Rasulullah selalu menjenguk dan mendoakannya.

Ummu Salamah selalu mendampingi suaminya yang sedang dalam keadaan sakit sehingga dia merawat dan menjaganya siang dan malam. Suatu hari, demam Abu Salamah menghebat, kemudian Ummu Salamah berkata kepada suaminya, “Aku mendapat benita bahwa seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, kemudian suaminya masuk surga, istrinya pun akan masuk surga, jika setelah itu istrinya tidak menikah lagi, dan Allah akan mengumpulkan mereka nanti di surga. Demikian pula jika si istri yang meninggal, dan suaminya tidak menikah lagi sepeninggalnya. Untuk itu, mari kita berjanji bahwa engkau tidak akan menikah lagi sepeninggalku, dan aku berjanji untukmu untuk tidak menikah lagi sepeninggalmu.” Abu Salamah berkata, “Maukah engkau menaati perintahku?” Dia menjawab, “Adapun saya bermusyawarah hanya untuk taat.” Abu Salamah berkata, “Seandainya aku mati, maka menikahlah.” Lalu dia berdoa kepada Allah ”Ya Allah, kurniakanlah kepada Ummu Salamah sesudahku seseorang yang lebih baik dariku, yang tidak akan menyengsarakan dan menyakitinya.”

Pada detik-detik akhir hidupnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. selalu berada di samping Abu Salamah dan senantiasa memohon kesembuhannya kepada Allah. Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Beberapa saat kemudian maut datang menjemput. Rasulullah menutupkan kedua mata Abu Salamah dengan tangannya yang mulia dan bertakbir sembilan kali. Di antara yang hadir ada yang berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau sedang dalam keadaan lupa?” Beliau menjawab, “Aku sama sekali tidak dalam keadaan lupa, sekalipun bertakbir untuknya seribu kali, dia berhak atas takbir itu.” Kemudian beliau menoleh kepada Ummu Salamah dan bersabda, “Barang siapa yang ditimpa suatu musibah, maka ucapkanlah sebagaimana yang telah dperintahkan oleh Allah, ‘Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan. Ya Allah, karuniakanlah bagiku dalam musibahku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya, maka Allah akan melaksanakannya untuknya.”

Setelah itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. berdo’a: “Ya Allah, berilah ketabahan atas kesedihannya, hiburlah dia dari musibah yang menimpanya, dan berilah pengganti yang lebih baik untuknya.”

Abu Salamah wafat setelah berjuang menegakkan Islam, dan dia telah memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Rasulullah. Sepeninggal Abu Salamah, Ummu Salarnah diliputi rasa sedih. Dia menjadi janda dan ibu bagi anak-anak yatim.
Setelah wafatnya Abu Salarnah, para pemuka dari kalangan sahabat bersegera meminang Ummu Salamah. Hal ini mereka lakukan sebagai tanda penghormatan terhadapat suaminya dan untuk. melindungi diri Ummu Salamah. Maka Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab meminangnya, tetapi Ummu Salamah menolaknya.

Pada saat dirundung kesedihan atas suami yang benar-benar dicintainya serta belum mendapatkan orang yang lebih baik darinya, ia didatangi oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dengan maksud menghiburnya dan meringankan apa yang dialaminya. Rasulullah berkata kepadanya, “Mintalah kepada Allah agar Dia memberimu pahala pada musibahmu serta menggantikan untukmu (suami) yang lebih baik.” Ummu Salamah bertanya, “Siapa yang lebih baik dan Abu Salamah, wahai Rasulullah?”

E. Di Rumah Rasulullah.
Rasulullah mulai memikirkan perkara Ummu Salamah, seorang mukminah mujahidah yang memiliki kesabaran, dan Ummu Salamah pun telah menolak lamaran dua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar. Rasulullah pun berpikir dengan penuh pertimbangan dan kasih sayang untuk tidak membiarkannya larut dalam kesedihan dan kesendirian.

Dalam keadaan seperti itu Rasulullah mengutus Hathib bin Abi Balta’ah menemui Ummu Salarnah dengan maksud meminangnya untuk beliau. Maka oleh Ummu Salamah diterimanya pinangan tersebut. Bagaimana mungkin baginya untuk tidak menerima pinangan dari orang yang lebih baik dari Abu Salamah, bahkan lebih baik dan semua orang di dunia.

Dengan perkawinan tersebut maka Ummu Salamah termasuk kalangan Ummahatul- Mukminin, dan oleh Rasulullah ia ditempatkan di kamar Zainab binti Khuzaimah yang digelari Ummul-Masakiin (ibu bagi orang-orang miskin) sampai Ummu Salamah meninggal dunia.

Hal itu diceritakan oleh Ummu Salamah kepada kami. Ia berkata, “Aku dipersunting oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam., lalu aku dipindahkan dan ditempatkan di rumah Zainab (ummul- masakiin).”
Beberapa keistimewaan yang dimiliki Ummu Salamah adalah ketajaman logika, kematangan berpikir, dan keputusan yang benar atas banyak perkara. Karena itu, ia memiliki kedudukan yang agung di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam., seperti interaksinya dengan para Ummahatul-Mukminin yang merupakan interaksi yang diliputi rasa kasih sayang dan kelemahlembutan.

F. Kedudukannya yang Agung
Di antara perkara yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam adalah apa yang diceritakan Urwah bin Zubair “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruh Ummu Salamah melaksanakan shalat shubuh di Mekah pada hari penyembelihan (qurban) — padahal saat itu merupakan hari (giliran)nya. Oleh sebab itu, Rasulullah merasa senang atas kesetujuannya.”

Begitu juga hadits Ummi Kulsum binti Uqbah yang dimasukkan oleh Ibnu Sa’ad dalam (kitab) Thabaqat-nya. Ummi Kultsum berkata, “Tatkala Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. menikahi Ummu Salamah, belau berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya aku menghadiahkan untuk Raja Najasyi sejumlah bejana berisikan minyak wangi dan selimut. Akan tetapi, aku bermimpi bahwa Raja Najasyi itu telah meninggal dunia, kemudian hadiah yang kuberikan kepadanya dikembalikan kepadaku. Karena dikembalikan kepadaku, maka barang tersebut menjadi milikkü.”

Sebagaimana yang dikatakan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam., Raja Najasyi meninggal dunia, dan hadiah tersebut dikembalikan kepadanya. Lalu beliau memberikan kepada setiap istrinya masing-masing satu uqiyah (1/2 liter Mesir) dan beliau memberi (sisa) keseluruhannya serta selimut kepada Ummu Salamah.

Setelah Ummu Salamah menjadi istrinya, Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. memasukkannya dalam kalangan ahlul-bait. Di antara riwayat tentang masalah tersebut adalah bahwasanya pernah pada suatu hari Rasulullah berada di sisi Ummu Salamah, dan anak perempuan Ummu Salamah ada di sana. Rasulullah kemudian didatangi anak perempuannya, Fathimah azZahra, disertai kedua anaknya, Hasan dan Husain r.a., lalu Rasullah memeluk Fathimah dan berkata, “Semoga rahmat Allah dan berkah-Nya tercurah pada kalian wahai ahlul-bait. Sesungguhnya Dia Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.”

Lalu menangislah Ummu Salamah. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menanyakan tentang penyebab tangisnya itu. Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau mengistimewakan mereka sedangkan aku dan anak perempuanku engkau tinggalkan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau dan anak perempuanmu termasuk keluargaku.”

Anak perempuan Ummu Salamah, Zainab, tumbuh dalam peliharaan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. ia termasuk di antara wanita yang memiliki ilmu yang luas pada masanya.

Sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mempersunting Ummu Salamah, wahyu pernah turun kepada Rasulullah di kamar Aisyah, yang dengan hal itu Aisyah membanggakannya pada istri-stri beliau yang lain. Maka setelah Rasulullah menikahi Ummu Salamah, wahyu turun kepadanya ketika beliau berada di kamar Ummu Salamah.

G. Beberapa Sikap Cemerlang pada Masa Hidup Ummu Salamah.
Di antara sikap agungnya adalah apa yang ditunjukkannya pada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. pada hari (perjanjian) Hudaibiyah. Pada waktu itu ia menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dalam perjalanannya menuju Mekah dengan tujuan menunaikan umrah, tetapi orang-orang musyrik mencegah mereka untuk memasuki Mekah, dan terjadilah Perjanjian Hudaibiyah antara kedua belah pihak.

Akan tetapi, sebagian besar kaum muslimin merasa dikhianati dan merasa bahwa orang-orang musyrik menyianyiakan sejumlah hak-hak kaum muslimin. Di antara mayonitas yang menaruh dendam itu adalah Umar bin al-Khaththab, yang berkata kepada Rasulullah dalam percakapannya dengan beliau, “Atas perkara apa kita serahkan nyawa di dalam agama kita?” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menjawab, “Saya adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya, dan Dia tidak akan menyianyiakanku.”

Akan tetapi, tanda-tanda bahaya semakin memuncak setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruh kaum muslimin melaksanakan penyembelihan hewan qurban kemudian bercukur, tetapi tidak seorang pun dari mereka melaksanakannya. Beliau mengulang seruannya tiga kali tanpa ada sambutan.

Beliau menemui istrinya, Ummu Salamah, dan menceritakan kepadanya tentang sikap kaum muslimin. Ummu Salamah berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah engkau menginginkan perintah Allah ini dilaksanakan oleh kaum muslimin? Keluarlah engkau, kemudian janganlah mengajak bicara sepatah kata seorang pun dari mereka sampai engkau menyembelih qurbanmu serta memanggil tukang cukur yang mencukurmu.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. kagum atas pendapatnya dan bangkit mengerjakan sebagaimana yang diusulkan Ummu Salamah. Tatkala kaum muslimin melihat Rasulullah mengerjakan hal itu tanpa berkata kepada mereka, mereka bangkit dan menyembelih serta sebagian dari mereka mulai mencukur kepala sebagian yang lain tanpa ada perasaan keluh kesah dan penyesalan atas tindakan Rasulullah yang mendahului mereka.

Ummu Salamah telah menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. di banyak peperangan, yaitu peperangan Khaibar, Pembebasan Mekah, pengepungan Tha’if, peperangan Hawazin, Tsaqif kemudian ikut bersama beliau di Haji Wada’.
Kita tidak melupakan sikapnya terhadap Umar bin al-Khaththab, tatkala Urnar datang kepadanya dan mengajak bicara tentang perkara keperluan Ummahatul-Mukminin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. serta kekasaran mereka terhadap Rasulullah. Maka ia berkata, “Engkau ini aneh, wahai anak al-Khaththab. Engkau telah ikut campur di setiap perkara sehingga ingin mencampuri urusan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. beserta istri-istrinya?”

Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. meninggal dunia ia senantiasa mengenang beliau dan sangat berduka cita atas kewafatannya. Beliau senantiasa banyak melakukan puasa dan beribadah, tidak kikir pada ilmu, serta meriwayatkan hadits yang berasal dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.

Telah diriwayatkannya sekian banyak hadits shahih yang bersumber dari Rasulullah dan suaminya, Abu Salamah, serta dari Fathimah az-Zahraa Sedangkan orang yang meriwayatkan darinya banyak sekali, di antara mereka adalah anak-anaknya dan para pemuka dan sahabat serta ahli hadits.

Di antara beberapa sikapnya yang nyata adalah pada hari pembebasan kota Mekah. Waktu itu Nabi keluar dari Madinah bersarna bala tentaranya dengan kehebatan dan jumlah yang belum pernah disaksikan oleh bangsa Arab, sehingga orang-orang musyrik Quraisy merasa takut, dan mereka keluar dari rumah dengan rnaksud menemui Rasulullah untuk bertobat dan menyatakan keislaman mereka.

Termasuk dari mereka, Abu Sufyan bin al-Harts bin Abdul-Muththalib (anak paman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.) dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah (anak bibi [dari ayah] Rasulullah, saudara Ummu Salamah sebapak). Ketika mereka berdua meminta izin masuk menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam., beliau enggan memberi izin masuk bagi keduanya disebabkan penyiksaan mereka yang keras terhadap kaurn muslimin menjelang beliau hijrah dari Mekah.

Maka berkatalah Ummu Salamah kepada Rasulullah dengan perasaan iba terhadap keluarganya sendiri dan juga keluarga Rasulullah, “Wahai Rasulullah, mereka berdua adalah anak parnanmu dan anak bibirnu (dan ayah) serta iparmu.” Rasulullah menjawab, “Tidak ada keperluan bagiku dengan mereka berdua. Adapun anak parnanku, aku telah diperlakukan olehnya dengan tidak baik. Adapun anak bibiku (dari ayah) serta iparku telah berkata di Mekah dengan apa yang ia katakan.”

Pernyataan itu telah sampai kepada Abu Sufyan, anak paman Rasulullah. Maka ia berkata, “Demi Allah, ia harus mengizinkanku atau aku mengambil anak ini dengan kedua tanganku -pada saat itu ia bersama anaknya, Ja’far- kemudian karni harus berkelana di dunia sehingga mati kehausan dan kelaparan.”

Lalu Ummu Salamah memberitahukan perkataan Abu Sufyan tersebut kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dengan kembali memohon rasa belas kasih. Akhirnya hati beliau menjadi luluh, lalu mengizinkan keduanya masuk. Maka masuklah keduanya dan menyatakan keislaman serta bertobat di hadapan Rasulullah.

H. Sikapnya terhadap Fitnah
Ummu Salamah selalu berada di rumahnya, senantiasa ikhlas beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjaga Sunnah suaminya tercinta pada masa (khilafah) Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab..
Pada masa khilafah Utsman bin Affan ia melihat kegoncangan situasi serta perpecahan kaum muslimin di seputar khalifah. Bahaya fitnah sernakin memuncak di langit kaum muslirnin. Maka ia pergi menernui Utsman dan menasihatinya supaya tetap berpegang teguh pada petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. serta petunjuk Abu Bakar dan Umar bin al-Khaththab, tidak menyimpang dan petunjuk tersebut selama-lamanya.

Apa yang dikhawatirkan Ummu Salamah terjadi juga, yaitu peristiwa terbunuhnya Utsman yang saat itu tengah membaca Al-Qur’an dan angin fitnah tengah bertiup kencang terhadap kaurn muslimin. Pada saat itu Aisyah telah membulatkan tekad untuk keluar menuju Bashrah disertai Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin al-’Awwam dengan tujuan mernobilisasi massa untuk melawan Ali bin Abi Thalib. Maka Ummu Salamah mengirim surat yang memiliki sastra indah kepada Aisyah.

“Dari Ummu Salamah, Istri Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam., untuk Aisyah Ummul-Mu’ minin.
Sesungguhnya aku memuji Allah yang tidak ada ilah (Tuhan) melainkan Dia. Amma ba’du.
Engkau sungguh telah merobek pembatas antara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dan umatnya yang merupakan hijab yang telah ditetapkan keharamannya.
Sungguh Al-Qur’an telah memberimu kemuliaan, maka jangan engkau lepaskan. Dan Allah telah menahan suaramu, maka janganlah engkau niengeluarkannya Serta Allah telah tegaskan bagi umat ini seandainya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengetahui bahwa kaum wanita memiliki kewajiban jihad (berperang) niscaya beliau berpesan kepadamu untuk menjaganya.
Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau melarangmu melampaui batas dalam agama, karena sesungguhnya tiang agama tidak bisa kokoh dengan campur tangan wanita apabila tiang itu telah miring, dan tidak bisa diperbaiki oleh wanita apabila telah hancur. Jihad wanita adalah tunduk kepada segala ketentuan, mengasuh anak, dan mencurahkan kasih sayangnya.”
Ummu Salamah berada di pihak Ali bin Abi Thalib karena beliau menggikuti kesepakatan kaum muslimin atas terpilihnya beliau sebagai khalifah mereka. Karena itu, Ummu Salamah mengirim/mengutus anaknya, Umar, untuk ikut berperang dalan barisan Ali .

I. Saat Wafatnya
Pada tahun ke-59 hijriah, usia Ummu Salamah telah mencapai 84 tahun. Usia tua dan pikun merambah di pertambahan umurnya. Allah ta’ala mengangkat rohnya yang suci naik ke atas menuju hadirat-Nya. Ia meninggal dunia setelah hidup dengan aktivitas yang dipenuhi oleh pengorbanan, jihad, dan kesabaran di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Beliau dishalatkan oleh Abu Hurairah r.a. dan dikuburkan di al-Baqi’ di samping kuburan Ummahatul-Mukminin lainnya.

Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Ummu Salamah. dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Sumber: Buku Dzaujatur-Rasulullah , Karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh

07 Juni 2010

Bukan Karenamu, tapi Karena-Nya...



Ya Rabbi, Aku berdoa untuk seorang pria, yang akan menjadi bagian dari hidupku.

Seorang pria yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.

Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau.

Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU.

Seorang pria yang mempunyai sebuah hati yang sungguh mencintai dan haus akan Engkau dan memiliki keinginan untuk menauladani sifat-sifat Agung-Mu.

Seorang pria yang mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia- sia.

Seorang pria yang memiliki hati yang bijak bukan hanya sekedar otak yang cerdas.

Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku.

Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah.

Seorang pria yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tetapi karena hatiku.

Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi.

Seorang pria yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika berada disebelahnya.

Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.

Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya.

Seorang pria yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya.

Seorang pria yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

Dan aku juga meminta: Buatlah aku menjadi seorang perempuan yang dapat membuat pria itu bangga.

Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU, sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMU, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.

Berikanlah SifatMU yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMU bukan dari luar diriku.

Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.

Berikanlah aku penglihatanMU sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja.

Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata- kata kebijaksanaanMU dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari, dan aku dapat tersenyum padanya setiap pagi.

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakaan "Betapa besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna".

Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kautentukan.

06 Februari 2010

Air Mata Wanita



Suatu ketika, ada seorang anak lelaki yang bertanya kepada ibunya.
"Ibu, mengapa ibu menangis?"
Ibunya menjawab, "Sebab ibu wanita."

Dia tidak mengerti, kata si anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.
"Nak, kamu memang tidak akan mengerti..."

Kemudian, anak itu bertanya kepada ayahnya.
"Ayah, mengapa ibu menangis?"
Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan."
Hanya itu jawapan yang dapat diberikan oleh ayahnya.

Lama kemudian, si anak itu menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Pada suatu malam, ia bermimpi dan mendapat petunjuk daripada Allah mengapa wanita mudah sekali menangis.

Saat Allah menciptakan wanita, Dia membuat menjadi sangat penting.

Allah ciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya. Walaupun, bahu itu cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tidur.

Allah berikan wanita kekuatan untuk melahirkan zuriat dari rahimnya. Dan sering kali pula menerima cerca daripada anaknya sendiri.

Allah berikan ketabahan yang membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah di saat semua orang berputus asa.

Wanita, Allah berikan kesabaran, untuk merawat keluarganya walau letih, sakit, lelah dan tanpa berkeluh-kesah.

Allah berikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya, dalam situasi apa pun. Biarpun anak-anaknya kerap melukai perasaan dan hatinya.

Perasaan ini memberikan kehangatan kepada anak-anaknya yang ingin tidur. Sentuhan lembutnya memberi keselesaan dan ketenangan.

Dia berikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa kegentiran dan menjadi pelindung baginya. Bukankah tulang rusuk suami yang melindungi setiap hati dan jantung wanita?

Allah kurniakan kepadanya kebijaksanaan untuk membolehkan wanita menilai tentang peranan kepada suaminya.Seringkali pula kebijaksanaan itu menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap saling melengkapi dan menyayangi.

Dan akhirnya, Allah berikannya airmata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Allah berikan kepada wanita, agar dapat digunakan di mana ia inginkan.

Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, airmata ini "airmata kehidupan".

Wallahu A'lam...

06 Januari 2010

D.I.A.M !!!


Ada -orang bijak- yang bilang "diam itu emas"

namun ada kalanya diam itu tidak lagi emas !!

bisa jadi, diam sebab tidak peduli

bisa jadi, diam karena bodoh

bisa jadi, diam akibat tidak tahu

bisa jadi, diam bermakna statis

bisa jadi, diam berarti mati



............................................................



kadang diam itu manis...

kadang diam itu nikmat...

namun,,

kadang diam juga pahit...

kadang diam juga duka...



..........................................................



satu yang pasti,


diam itu sunyi...




  • jika sampai detik ini aku masih diam, bukan berarti ku takkan pernah bicara. sudah... diamkan saja diamku ini!! Jika tiba masanya nanti, diamku pasti kan terhenti... sebab diamku kini adalah diam mencari...

22 November 2009

Akhwat-akhwat Kepunyaan Allah...


Dikisahkan bahwa ada seorang remaja putri bertanya pada ibunya: “Ibu, ceritakan padaku tentang akhwat sejati…”Rata Penuh

Sang ibu tersenyum sambil tengadah, dan menjawab…
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari wajahnya yang manis dan menawan, tetapi dari kasih sayangnya pada karib kerabat dan orang disekitarnya.
Pantang baginya mengumbar aurat, dan memamerkannya kepada siapapun, kecuali pada pasangan hidupnya.
Dia yang senantiasa menguatkan iltizam dan azzam-nya dalam ber-ghadul bashar dan menjaga kemuliaan diri, keluarga, serta agamanya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lembut dan mempesona, tetapi dari lembut dan tegasnya tutur dalam mengatakan kebenaran.
Dia yang senantiasa menjaga lisan dari segala bentuk ghibah dan namimah. Pantang baginya membuka aib saudara-saudaranya.
Dia yang memahami dan merasakan betul jika Allah swt senantiasa mengawasi segala tindak-tanduknya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari liuk gemulainya kala berjalan, tetapi dari sikap bijaknya memahami keadaan dan persoalan-persoalan.
Dia yang senantiasa bersikap tulus dalam membina persahabatan dengan siapapun, dimana dirinya berada. Tak ada perbendaharan kata “cemburu buta” dalam kamus kehidupannya.

Dia yang senantiasa merasa cukup atas nafkah yang diberikan sang suami kepadanya.
Tak pernah menuntut apa-apa yang tidak ada kemampuan pada sang qowwam ditengah keluarga. Sabar adalah aura yang terpancar dari wajahnya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia menghormati dan menyayangi orang-orang ditempat kerja, tetapi, dari tatacaranya menghormati dan menyayangi orang-orang di rumah dan sekitarnya.
Dia yang jika dilihat menyejukkan mata dan meredupkan api amarah.
Baitii Jannatii selalu berusaha ia ciptakan dalam alur kehidupan rumah tangga.
Totalitas dalam menyokong dakwah suami dan berdarma bakti mengurus generasi penerus yang berjiwa rabbani.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang memuji dan menaruh hati padanya, tetapi dilihat dari kesungguhannya dalam berbakti dan mencintai Allah, Rasulullah, dan pecintanya.
Pantang baginya mengikuti arus mode yang melenakan dan menyilaukan mata.
Dia yang selalu menghindari sesuatu yang syubhat terlebih hal-hal yang di haramkan-Nya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari pandainya dia merayu dan banyaknya air mata yang menitik tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan.
Dia yang pandai mengatur, membina dan menjaga keharmonisan rumah tangga.
Pancaran kasih sayang melesat tajam dari tiap nada bicara yang keluar dari bibirnya.
Dia yang memiliki perasaan yang tajam untuk selalu berbuat ihsan kala ditempat umum maupun kala sendiri.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari tingginya gelar dan luasnya wawasan tetapi tingginya ghirah untuk
menuntut ilmu dan mengamalkan syariat secara murni dan berkesinambungan…

Setelah itu, ia bertanya kembali…
“Adakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, ibu?”

Sang ibu menjawab: “Adakah kau meragukan kesalehan para ummahatul mukminin?
Contohlah para istri dan puteri Rasulullah saw, bagaimana mereka bertindak tanduk, bagaimana mereka menyokong pasangan hidup mereka dalam menghadapi badai kehidupan, bagaimana mereka berdakwah, bagaimana mereka membentuk dan membina angkatan generasi rabbani…

Tauladanilah mereka…
Khadijah, Aisyah, Hafsah, Maimunah, Shafiyah, Fatimah Az-Zahra, dan para shahabiyah radiyallohu’anha ajma’in. Merekalah sebaik-baik perhiasan dunia itu. Ingatkah kau sabda Rasulullah saw:
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

Dan juga firman-Nya yang mulia:
“…Dan oleh sebab itu, wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara (dirinya dan harta suami) ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah (menyuruh) memeliharanya…” (QS. An-Nisaa’: 34)

Pelajarilah ini. Sambil memberinya sebuah buku, Sirah Shahabiyah. Pelajari dan amalkan. Tempalah dirimu supaya menjadi seperti mereka. Niscaya engkau akan menjadi akhwat sejati. Muslimah yang membuat iri dan cemburu para bidadari. Niscaya menjadi dambaan bagi mereka insan berjiwa rabbani. Menjadi dambaan mereka para hamba Allah yang tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia yang semu.
Niscaya menjadi dambaan bagi mereka pemilik ruh dakwah dan jihadiyah.
Jika tidak demikian, tidak ada yang bisa menjaminmu untuk masuk kedalam surga-Nya.

Adakah surga dan kemuliaan itu dapat dibeli dengan banyaknya senda gurau dan gelak tawa? Sekali-kali tidak wahai anakku! Surga hanya dapat kau beli dengan kesungguh-sungguhan dalam beramal dan keikhlasan yang sangat untuk semata mengharap ridha Allah ta’ala.

Takutlah engkau pada suatu hal yang telah diramalkan Rasulullah saw dalam sabdanya:
“Aku diperlihatkan neraka ternyata kebanyakan penghuninya wanita yang kufur.
Para sahabat bertanya: ‘Apakah dia kufur kepada Allah?’ Rasulullah menjawab: ‘Tidak’. Mereka hanya kufur kepada suaminya, mereka mengingkari kebaikannya. Jika ia berbuat baik terhadap salah seorang diantara mereka, mereka menyanjungnya. Kemudian apabila terhadap sedikit saja kejelekan, ia berkata: ‘Aku belum pernah melihatmu berbuat baik terhadapku.” (HR. Bukhari)

Jagalah dirimu supaya tidak termasuk dalam golongan mereka. Hati-hatilah terhadap perbuatan kufur yang tidak engkau sadari.
“Camkanlah itu wahai anakku!” kata sang ibu.
Kepalanya menunduk. Tangannya mengusap ujung matanya dengan sepotong sapu tangan warna biru. Warnanya telah kabur. Sekabur pandangan matanya. Sang anakpun segera mendekap ibunya. Beberapa tetes embun bening, mengucur dari ujung matanya.

Subhanallah...
Semoga kita(para wanita) bisa menjadi seperti itu...