Tampilkan postingan dengan label nikah dan keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nikah dan keluarga. Tampilkan semua postingan

25 September 2011

Barokah.. Barokah.. Barokah.. ^^

Bismillah...

Semenjak banyak kenalan yang menggenapkan separuh dien, do'a itu sudah kuhafal di luar kepala... ^_^
"Barokallahu laka wa baroka ’alaika wa jama’a bainakuma fi khoir"
Semoga Allah memberkahimu, semoga Allah memberkahi atasmu, dan semoga Allah menghimpunkan kalian berdua dalam kebaikan. ( HR. Abu Darda dan Tirmidzi )
 
 
Naah... giliran mereka dikaruniai momongan, mulailah aku sibuk mencari-cari do'a mana yang shahih. Setelah searching kemana-mana, akhirnya nemu juga 'jawaban'-nya..

Do'a ini dinisbatkan kepada Husain bin `Ali r.a., bahwa beliau mengajarkan seseorang jika mendapati orang lain dikaruniai anak, agar mengucapkan selamat dengan do`a:
"Barokallahu laka fil-mauhubi wasyakarta al-Wahib wabalagha asyuddahu waruziqta birrohu.."
Semoga keberkahan terlimpahkan kepadamu atas kelahiran ini. Bertambah syukurnya kepada Allah Yang Maha Pemberi karunia. Bisa melihatnya hingga dewasa. Dan dikaruniai kebaikan-kebaikannya serta keberbaktiannya.

Sedangkan orang yang diberi ucapan selamat itu menjawab:
"Barokallahu laka wa baroka `alayka wa jazakallahu khayran wa rozaqokAllahu mitslahu wa ajzala tsawabaka.."
Semoga Allah memberkahimu, memberikan kebaikan kepadamu, memberimu balasan yang baik, memberi karunia seperti ini juga, dan menggandakan pahalamu.
** Semua dalam bentuk mudzakkar mufrod (lelaki tunggal).

Sedangkan do`a untuk anak, itu merupakan hadits riwayat Bukhari juga Abu Dawud dari Ibnu `Abbas, ketika Rasulullah mendo`akan Hasan-Husain yang baru lahir, dengan redaksi fa`il mufrod (yg mendo`akan tunggal) dan maf`ul mutsanna mudzakkar (anak yg dido`akan dua orang lelaki):
"U`idzukuma bikalimatillahi at-tammah min kulli syaithonin wahammah wamin kulli `ainin lammah."
Aku memohonkan perlindungan atas keduanya dengan Kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala godaan syaitan dan binatang buas, serta dari pandangan mata orang yang dengki.
**) Kata ganti (dhomir-nya) silakan disesuaikan.

Bahasan lengkapnya bisa dilihat di:
- Al-Adzkar, Imam An-Nawawi
- Shahih Kitab Al-Adzkar wa Dho`ifuhu, Salim bin Ied Al-Hilali
- Hishnul Muslimin, Said bin Ali Al-Qahthani
- Tuhfah Adz-Dzakirin, Imam Ibnu Jazari

Allohu wa Rosuluhu a`lam...

Alur perayaan cinta...

David Weinlick nama pria itu. Tanggal 13 Juni 1998 jam 11 siang, Dave berdiri di Mall of America di Minneapolis untuk menikah. Tetapi ia belum tahu dengan siapa. Sebuah panitia yang dipimpin psikolog tenar Steve Fletcher sedang memilihkan calon mempelai wanita untuknya melalui serangkaian wawancara dengan 26 orang calon yang telah mendaftar sejak Dave ‘diiklankan’ di televisi. Waow ! acara di mall ini melebihi apa yang diperkirakan Fletcher, ditonton ribuan orang dan ditayangkan live oleh stasiun televisi dari 6 negara.

Richard Calrson, Ph.D., kolega Fletcher yang kita kenal di Indonesia melalui rangkaian buku psiko-pop karyanya Don’t Sweat Little Stuff mengisahkan ketakjubannya bahwa Fletcher dan timnya memulai acara di jam 7 pagi, mulai memilih jam 13.30 siang, dan Elizabeth Runze sang mempelai wanita terpilih dan dinikahkan dengan Dave tepat pukul 16.00 sore. Satu menit sebelum pernikahan dimulai. Sekali lagi “waow!”, kata Carlson.

Siapa yang was-was selalu? Tentu saja Steve Fletcher, sang comblang yang jauh-jauh hari telah dikatai bercanda, gila, mabuk saat menyelenggarakan acara ini. Selama beberapa tahun ia terus menjalin komunikasi dengan Dave dan Elizabeth. Ia selalu bertanya, “Bagaimana?” Dan hingga kini ia tersenyum karena mereka masih saling mabuk kepayang pada pasangan hidupnya dalam sebuah rumahtangga harmonis yang sering terasa utopis bagi orang Amerika.

Apa rahasia kesuksesan pernikahan yang kisahnya seperti judul buku saya –Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan- itu? “ Mengapa kau yakin ini akan berhasil?”,tanya teman-teman. Kata Elizabeth,” karena aku yakin ini akan berhasil. Sesederhana itu saja. Aku fokus pada apa yang dibutuhkab untuk membangun kehidupan bersama yang panjang dan penuh kebahagiaan.” Ya.dia punya visi.

Bagaimanapun,saya kagum pada kisah ini. Saya lalu teringat pada beberapa undangan walimah di atas meja yang mencantumkan ayat Allah, Surat Ar Ruum ayat 21.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaaj (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah kepadanya, dan dijadikanNya di antara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”

Saya pikir, inilah yang kita punya. Inilah manhaj yang seharusnya kita jadikan plot (alur) dalam merayakan cinta. Sedihnya, kebanyakan mereka yang mencantumkanny dengan tinta emas di atas undangan mewah tak menghayati maknanya. Ringkasnya, ada beberapa kata kunci yang saya tangkap dari ayat ini.
  1. Min anfusikum. Dari jiwa-jiwa yang kalian. Artinya, hal pertama yang dibicarakan Al Qur’an tentang pernikahan dua manusia adalah kesejiwaan. Ruh itu, kata Nabi seperti tentara. Jika kode sama, sandinya nyambung, meskipun belum saling melihat mereka pasti bersepakat. Jika tidak, ya tembak dulu, urusan belakangan. Kodenya saja sudah nggak nyambung sih. Nah, apa sih kode dan sandi untuk ruh? Komitmen kepada Allah dan agamanya. Itu saja. Itulah kesejiwaan. Dave dan Elizabeth menunjukkan pada kita bahwa sekedar komitmen untuk membina rumahtangga bahagia saja bisa sedemikian kuat. Apalagi komitmen yang lebih besar seperti kesamaan visi untuk memperjuangkan agama Allah?
  2. Azwaajan. Pasangan hidup. Tak berlama-lama , sesudah kesesuaian jiwa, Al Qur’an segera mengatakan bahwa mereka menjadi suami istri. saya tergelitik dengan pesan Dave yang mengsyaratkan kuatnya komitmenmengalahkan kekanak-kanakan jiwa. “Orang selalu berpikir”, kata Dave, “Bahwa kita harus mencari pasangan yang tepat, maka hubungan akan berhasil. Aku ingin katakan, berhentilah  mencari orang yang tepat,dan jadikan orang di samping anda yang memang hebat itu menjadi orang yang tepat!” Dave mengajari kita  menjadi manusia yang lebih tinggi, manusia yang ‘menjadikan’, bukan sekedar ‘mencari’. Dan Dave benar. Ada dua hal di dunia ini. Menikahi orang yang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi. Yang pertama hanyalah kemungkinan. Sedangkan yang kedua adalah kewajiban.
  3. Litaskunuu ilaihaa. Supaya kalian tentram,tenang,padanya. Unik sekali. Kata hubung yang dipakai adalah huruf lam (li) yang menunjukkan otomatis. Kata Allah, kalau pernikahan dimulai dari kesejiwaan,maka otomatis seorang suami akan merasakan ketentraman pada isterinya, dan seorang isteri akan merasakan ketenangan pada suaminya. Lhoh, kok banyak rumahtangga tidak sakinah? Mungkin karena tidak dimulai dari kesejiwaan sehingga untuk sekedar tentram saja ikhtiyarnya harus luar biasa kera. Apa sih sakinah itu? Sederhananya, sakinah inilah yang menyebabkan pernikahan disebut separuh agama seseorang. Dengannya seorang insan bisa mengoptimalkan potensinya untuk menjadi ‘Abdullah (hamba Allah), dan khalihah (pengelola nikmat-nikmatNya untuk kemaslahatan alam semesta). Tenteram karena gejolak syahwat telah menemukan saluran yang halal dan thayyib, tenang karena ada sahabat lekat yang siap mendukung perjuangan.
  4. Wa ja’ala bainakum mawaddatan. Kemudian ada yang harus diproses, diupayakan, yakni mawaddah. Apa itu mawaddah? Wah, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memang kekurangan kosakata untuk cinta. Hanya cinta dan love. Padahal bahasa Arab punya empat belas. Nah, saya membandingkan pemaknaan Ibnul Qayyim Al Jauziyah terhadap mawaddah dalam buku Raudhatul Muhibbin dengan salah satu jenis cinta yang disebut oleh Erich Fromm dalam The Art of Loving sebagai cinta yang erotis-romantis. Bentuknya bisa ekspresi yang paling bathin sampai paling zhahir, dari sifatnya emosional hingga seksual. Inilah mawaddah.
  5. Wa (ja’ala bainakuma) rahmatan. Yang harus diusahakan bukan cuma mawaddah tapi juga rahmah. Ini juga cinta lho, bukan sekedar kasih sayang. Cinta yang bagaimana? Cinta yang seperti lagu,kasih ibu kepada beta tak terhingga sepajang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. He he,jadi ingat waktu TK. Inilah cinta yang memberi –bukan meminta-, berkorban –bukan menuntut-, berinisiatif –bukan menunggu-, dan bersedia –bukan berharap-harap.  Erich Fromm menyebutnya cinta keibuan.
Nah, sekilas inilah alur perayaan cinta yang dituntunkan Al Qur’an. Jika kita mendesain perayaan cinta dengan plot ini, tanpa bermaksud lancang pada Allah saya berani menjamin bahwa dalam pernikahan kita bisa menemukan Bahagianya Merayakan Cinta, buku saya yang keempat itu.

Nah, kok banyak pernikahan yang error? Biasanya karena plotnya kacau. Pernikahan tidak dimulai dengan kesejiwaan tapi justru dengan mawaddah. Sebelum menikah mereka sudah menikmati cinta yang erotis-romantis. Entah apa namanya. Pacaran. TTM. HTS. Semuanya adalah mawaddah. Tanpa sakinah, apalagi rahmah.

Perhiasan, kado, bunga, coklat, kedekatan, khalwat, bersentuhan, pandangan. Itu semua mawaddah. Bahkan sms berisi nasehat “Bertaqwalah pada Allah”, missedcall tahajjud, hadiah buku dan kaset nasyid berjudul Jagalah Hati, dan seterusnya, itu juga mawaddah. Bentuknya saja yang berbeda. Yang satu bunga dan coklat valentine. Yang lain buku dan kaset da’wah. Tetapi sensasi yang dirasakan oleh pemberi dan penerima sebenarnya sama : mawaddah. Demi Allah,silakan pasang ECG di jantungnya dan EEG di otaknya. Sinyal yang dihasilkan persis. Artinya sensasi yang dirasakan sama..

Nah, hati-hati dengan mawaddah. Biasanya meski engkau wahai aktivis da’wah, memulainya dnegan kesejiwaan, coba-coba mencicipi mawaddah sebelum dihalalkan akan mengaburkan kesejiwaan itu dan membuat segalanya berantakan. Celakalah mereka yang menikmati mawaddah sebelum waktunya!


Sebuah kutipan dari buku Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim. Ditulis oleh Ustadz Salim A Fillah.

***^^***
Mari kita belajar menempatkan cinta pada plot yang seharusnya. Menjaga hati dan diri sebelum menikah itu bukankah jauh lebih utama daripada mengumbar cinta pada yang belum berhak? Itu kalau kita benar-benar ingin membuat pernikahan kita penuh barakah ^^

Dan lagi, kita pasti lebih bahagia ketika mendapatkan pasangan yang benar-benar bisa memuliakan kita dengan ketulusan cintanya pada kita bukan? ^^ bila ingin mendapat pasangan yang terbaik maka mari perbaiki diri kita juga.
Semoga bermanfaat..

12 Januari 2011

dari Cabe ke 'lem' Keluarga..

Bismillah...

Berawal dari obrolan dengan bapak penjual mie ayam keliling tentang harga cabe yang kian melangit, saya pun 'diantarkan' kepada sebuah note dari seorang kawan yang berisi analisis & rekomendasi terkait kenaikan harga cabe tersebut.
Berdasarkan analisis si penulis, ada 3 penyebab naiknya harga cabe di pasaran, yaitu :
1. masalah hama & penyakit tanaman => penyakit kuning dan antraknosa (hmm,,teman2 Pertanian lebih tahu nih!!)

2. erupsi merapi => beberapa daerah di Magelang yang merupakan salah satu sentra cabe turut terkena dampak erupsi merapi, so... gagal panen deh.. :(

3. ulah oknum2 tak bertanggung jawab => bisa jadi ada bandar & spekulan yang memainkan harga di pasaran (kata si penulis)


Nah, berdasarkan 'pembacaan' di atas, beberapa solusi yang ditawarkan antara lain :
1. menggalakkan program penanaman sendiri di pekarangan rumah

2. pemerintah lebih 'menurunkan tangannya' untuk ikut andil dalam hal pembuatan kebijakan terkait harga maksimum, pengawasan komoditas, serta perbaikan sistem informasi

3. pemanfaatan teknologi => cabe kering

Yups, itu beberapa hal yang semoga bisa menambah wawasan kita tentang 'ilmu kecabean'. hehe...
Harapannya, setelah mengetahui ilmunya, kita pun bisa berperan aktif untuk 'meringankan' kesulitan bangsa ini salah satunya melalui usaha menanam cabe sendiri. (hmm,,,masih reaktif ya? tak apa lah, dari pada pasif)

Ahaa... dari solusi 'menanam cabe di pekarangan' itu, tiba-tiba muncul sekeping memori yang pernah terekam di otak saya!!
Tentang rumah...
Lebih spesifik lagi, tentang pekarangan rumah... 

Ya.. saya pernah bermimpi, jika punya rumah nanti, WAJIB punya sepetak lahan (tidak harus luas) untuk dijadikan pekarangan..

Bukan cuma butuh 'hijau'-nya untuk me-refresh mata dan pikiran jika sedang 'butek'...
Bukan juga hanya sebagai 'pasar hidup' atau 'apotek hidup' yang siap di-'unduh' hasilnya (seperti: sayur, buah, bumbu dapur, tanaman obat, dll) sewaktu-waktu kita butuh...

Bukan pula sebagai media penyalur hobi bercocok tanam, apalagi sebagai lahan bisnis. Karena saya akui.. saya bukan orang yg cukup telaten untuk merawat tanaman (baca: moody).. ^.^v

Lalu untuk apa??

Well, dulu saya pernah membaca (atau mendengar. maaf, lupa!!), ada seorang bapak (konsultan keluarga, penulis buku ttg keluarga) berpesan agar setiap rumah sebisa mungkin memiliki sepetak lahan untuk dijadikan pekarangan. Salah satu alasannya adalah pekarangan rumah bisa berfungsi sebagai 'lem', yang bisa merekatkan setiap anggota keluarga.

Loh, kok bisa??

Ya bisa lah... coba teman-teman cermati atau rasakan sendiri, ketika sedang merawat pekarangan bersama keluarga, bukankah terasa adanya kehangatan tersendiri? Ada rasa kebersamaan ketika seluruh anggota keluarga bergotong royong merawat pekarangan seisinya.. mulai dari mencabuti rumput (gulma), menyiram tanaman, merapikan tanaman hias, atau saat beramai-ramai memanen buah-buahan. Betul tidak??

Bahkan kehangatan itu bisa hadir ketika sedang duduk-duduk santai di sore hari bersama keluarga sambil mengawasi anak-anak bermain berlarian mengejar kupu-kupu yang mengerubungi bunga-bunga cantik di tengah pekarangan... (hmm... anak-anak?? n.n)

aah.... sepertinya pekarangan rumah yang ada di benak saya itu indah sekali, ya??
Hehe... tak apalah. Bermimpi kan boleh..
Bahkan me-rigid-kan gambaran  mimpi pun sangat-sangat diizinkan.. apalagi untuk sesuatu yang membawa kebaikan ^___^


Jadi, sudahkah anda mulai memimpikan rumah anda di masa depan??
(bukan rumah masa depan yg ukurannya 2x1 lho ya!!)


Gambar saya ambil dari sini, sini, dan sini ^_^

04 Januari 2011

Teori Dasar Keluarga

DEFINISI KELUARGA
  1. Duvall dan Logan ( 1986 ) : Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga.
  2. Bailon dan Maglaya ( 1978 ) : Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya.
  3. Departemen Kesehatan RI ( 1988 ) : Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah :
1. Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi
2. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain
3. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial : suami, istri, anak, kakak dan adik
4. Mempunyai tujuan : menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anggota.

 
FUNGSI KELUARGA

Ada lima fungsi yang dapat dijalankan keluarga yaitu :
1. Fungsi biologis
  • Untuk meneruskan keturunan.
  • Memelihara dan membesarkan anak .
  • Memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
  • Memelihara dan merawat anggota keluarga .
2. Fungsi psikologis
  • Memberikan kasih sayang dan rasa aman .
  • Memberikan perhatian diantara anggota keluarga .
  • Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga .
  • Memberikan identitas keluarga.
3. Fungsi sosialisasi
  • Membina sosialisi pada anak.
  • Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
  • Meneruskan nilai-nilai budaya.
4. Fungsi ekonomi
  • Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
  • Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
  • Menabung untuk memenuhi kebutuhan -kebutuhan keluarga dimasa yang akan datang, misalnya pendidikan anak-anak, jaminan hari tua dan sebagainya.
5. Fungsi pendidikan
  • Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan, dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.
  • Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.
  • Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.

STRUKTUR
KELUARGA
  1. Patrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah
  2. Matrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu
  3. Matrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah ibu
  4. Patrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami
  5. Keluarga kawinan : hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.

Ciri-ciri Struktur Keluarga
  1. Terorganisasi : saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota keluarga
  2. Ada keterbatasan : setiap anggota memiliki kebebasan, tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam mejalankan fungsi dan tugasnya masing-masing
  3. Ada perbedaan dan kekhususan : setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing-masing.

MACAM-MACAM JENIS/ TIPE / BENTUK KELUARGA

A. TRADISIONAL
  1. The nuclear family (keluarga inti) >> Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
  2. The dyad family >> Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu rumah
  3. Keluarga usila >> Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak sudah memisahkan diri
  4. The childless family >> Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat waktunya, yang disebabkan karena mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita
  5. The extended family (keluarga luas/ besar) >> Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear family disertai : paman, tante, orang tua (kakak-nenek), keponakan, dll)
  6. The single-parent family (keluarga duda/janda) >> Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan)
  7. Commuter family >> Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada saat akhir pekan (week-end)
  8. Multigenerational family >> Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah
  9. Kin-network family >> Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama. Misalnya : dapur, kamar mandi, televisi, telpon, dll)
  10. Blended family >> Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah kembali dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya
  11. The single adult living alone/ single-adult family >> Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan (separasi), seperti : perceraian atau ditinggal mati

B. NON-TRADISIONAL :
  1. The unmarried teenage mother >> Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah
  2. The stepparent family >> Keluarga dengan orangtua tiri
  3. Commune family >> Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara, yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok / membesarkan anak bersama
  4. The nonmarital heterosexual cohabiting family >> Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan
  5. Gay and lesbian families >> Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana pasangan suami-istri (marital partners)
  6. Cohabitating couple >> Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu
  7. Group-marriage family >> Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang merasa telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu, termasuk sexual dan membesarkan anaknya
  8. Group network family >> Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan dan bertanggung jawab membesarkan anaknya
  9. Foster family >> Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara dalam waktu sementara, pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya
  10. Homeless family >> Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental
  11. Gang >> Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian, tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya.

 
PERANAN KELUARGA
 
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan, yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.

Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut :
1. Peranan ayah :
Ayah sebagai suami dari istri, berperanan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya

2. Peranan ibu :
Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
 
3. Peranan anak :
Anak-anak melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya, baik fisik, mental, sosial dan spiritual.

09 Desember 2010

Awalnya dari Niat

Awalnya dari niat.
Kelak Allah akan menilainya dan memberikan barakah sesuai dengan niatmu. Kalau niatmu menikah karena ingin menjawab pertanyaan Rasulullah tentang apa yang menghalangi seorang mukmin untuk mempersunting istri, insya allah engkau akan mendapati anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah.

Jika engkau tidak tahu betul bagaimana mendidik anakmu, Allah yang akan mendidiknya. Allah yang akan memberikan ilmu melalui kekuasaanNya. Banyak cara Allah membaguskan hamba-hambaNya. Banyak cara Allah menjadikan seorang hamba terangkat tinggi karena niatnya melalui anak-anak yang mereka lahirkan. Padahal mata kita yang penuh teori, semula memandang proses perkembangan anak-anak itu sebagai kesalahan. Sungguh sangat sedikit ilmu yang dimiliki manusia.

Awalnya dari niat.
Maka atas dasar apakah engkau menikahi calon istrimu? Jika gadis yang engkau pinang itu cantik, apakah engkau menikahinya karena mengharap keindahan dan wajah mengesankan? Ataukah, karena khawatir kecantikannya dapat membuatmu terjerumus kepada maksiat, lalu engkau berusaha dengan sungguh sungguh untuk segera menikahinya demi menjaga kehormatan farjimu berdua.

Beda sekali antara keduanya. Yang pertama dapat mendatangkan kekecewaan setelah menikah. Pernikahan sangat sedikit barakahnya. Sedang yang kedua, insya Allah akan dipenuhi barakah dari Allah yang terus melimpah.

Ketika engkau melihat calon istrimu memiliki ilmu agama yang bagus, atas dasar apakah engkau memilihnya? Ketika engkau melihat calon istrimu berkecukupan, atas dasar apakah engkau meminangnya? Ketika engkau melihat calon istrimu berkekurangan, atas dasar apakah engkau memintanya kepada kedua orangtuanya.

Awalnya adalah niat.
Maka aku bertanya kepadamu wahai calon istriku, apakah yang menggerakkan hatimu untuk mempercayakan kesetiaanmu kepadaku? Aku bertanya padamu karena niat akan menetukan apa yang akan engkau dapatkan kelak setelah kita menikah, dan kelak setelah kita tiada. Ketika kita sama sama menjadi jenazah.
Niatmu akan mempengaruhi bagaimana engkau merasakan arti saat-saat berdekatan, keindahan saat bersama, keadaan hati saat menghadap masalah, sampai bagaimana engkau merasakan arti darah setetes ketika melahirkan, juga ketika harus bangun saat anakmu terbangun dari tidurnya.

Semua berawal dari niat. Niat ketika menerima pinangan, niat ketika memasuki jenjang pernikahan, niat ketika menghabiskan saat-saat berdua, dan niat ketika melakukan berbagai hal. Niat-niat itu bisa menambah barakah dan memperbaiki kesalahan niat sebelumnya, bisa mengurangi barakah dari apa yang sebelumnya telah engkau terima atau engkau berikan kepada suami.

Awalnya dari niat.
Aku mendengar, kata Umar bin Khaththab r.a, Rasulullah Saw bersabda, “ Sesungguhnya amal perbuatan itu dinilai hanya berdasarkan niatnya. dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan, barangsiapa hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka nilai hijrahnya adlah kepada Allah dan RasulNya. dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau perempuan yang ingin dinikahinya maka nilai hijrahnya adalah apa yang menjadi tujuan hijrahnya." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi dan An Nasa’i) [*]

Awalnya dari niat.
Niat yang baik dan jernih akan mendekatkan kepada barakah. Semakin baik niat kita, insya Allah semakin barakah rumah tangga kita, sekalipun kita tidak bisa menunaikan seluruh perkara yang kita niatkan dengan sebaik-baiknya. Bahkan kalau kita tidak bisa mengamalkan apa yang sudah kita niatkan dengan sungguh-sungguh, maka bagi kita apa yang kita niatkan. Allah menyempurnakan apa yang kita niatkan, sekalipun kita tidak bisa melaksanakan.

Tetapi beda sekali antara niat yang sungguh-sungguh dengan mengada-adakan niat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari ghurur (terkelabui). Kita menyangka punya niat, padahal hanya angan-angan yang kemudian kita jelaskan dengan akal.

Adapun jika engkau telah berniat dengan niat yang baik, maka berbahagialah, sebab Rasulullah Saw, bersabda, “Niat orang mukmin lebih baik daripada perbuatannya. Sementara niat orang fasik lebih buruk daripada perbuatannya”

Maka marilah kita niatkan satu kebaikan didalam pernikahan. Niat mendidik anak dengan sebaik-baik pendidikan. Niat menetapkan satu sunnah hasanah dalam keluarga. Niat untuk melaksanakan perbuatan yang mendatangkan barakah bagi kita.

Satu niat saja yang sungguh-sungguh ingin kita kerjakan, insya Allah menjadi pintu barakah, kebaikan berlipat-lipat yang terus berkembang. Hanya Allah yang berhak menentukan kebaikan apa yang dikaruniakan kepada kita di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi kebaikan. Maha Suci Allah dari segala keburukan yang diangan-angankan oleh akal yang keruh.

Hujan itu mensucikan bumi

Adakalanya niat kita menikah masih belum bersih, kemudian Allah memberikan kasih sayangNya. Allah memberikan berbagai keadaan sehingga kita mensucikan niat kita. Allah menurunkan peristiwa-peristiwa sehingga kita mengetahui kekotoran niat kita yang selama ini tersembunyi dari pengetahuan kita sendiri maupun orang lain.

Adakalanya niat seseorang sudah bersih, kemudian Allah menguji kesungguhan niatnya. Allah memberikan ujian, sehingga tampak apakah ia bersungguh-sungguh dengan niatnya. Sehingga tampak apakah ia tetap berpegang pada tali-Nya disaat menghadapi kesulitan. Sehingga semakin kokoh niatnya kalau ia tetap memegangi niatnya. Yang demikian ini insya Allah akan membuat niatnya lebih dekat kepada barakah dan tidak mudah meluntur oleh keadaan-keadaan sesudah menikah.
“Dan Allah berbuat demikian untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada didalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati” (Ali Imran : 154)
Sebagian orang ridha terhadap apa yang terjadi, sehingga Allah menambah kemulian dan barakahnya. Sebagian merasa kecewa kepada Allah. Sebagian lagi merasa kecewa, kemudian memperbaiki hati setelah menyadari kesalahan-kesalahannya.

Adakalanya Allah mensucikan bumi dengan menurunkan hujan. Dalam hujan ada kilat dan petir. Sebelum hujan ada mendung tebal yang mebuat gerah orang-orang dimuka bumi. Kita sering tidak bisa membedakan antara panasnya terik matahari dengan gerahnya awan tebal yang mengawali hujan penuh rahmat.

Pensucian niat bisa juga terjadi karena bertambahnya ilmu. Ketika seseorang memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai agamanya, akhirnya ia mengenali kekeruhan-kekeruhan niat yang selama ini tidak diketahuinya.

Mudah mudahan Allah memperbaiki niat kita. Mudah-mudahan Allah melepaskan kita dari ghurur (terkelabui) atas perkara-perkara yang kita sangka niat kita, padahal hanya angan-angan yang kita jelaskan dengan akal saja.

Aku mengingatkan pada diriku sendiri dan orang -orang yang aku cintai, mintalah kepada Allah penjagaan niat dari kotoran-kotoran yang tidak engkau ketahui dan kebusukan yang tidak mampu engkau hilangkan sendiri saat ini. Semoga Allah mengampuniku (kita) dan memperbaiki niatku (kita).

Wallahu ‘alam bishawab.
Diambil dari tulisannya ustadz Faudzil Adzim
(reposted @ http://bintangbirulangit.wordpress.com/2010/09/02/awalnya-dari-niat/)
*****************************************************************
Sebuah tadzkiroh akan pentingnya meluruskan niat di setiap langkah (bukan hanya pada topik di atas saja ya...^^).
Semoga kita termasuk orang2 yang senantiasa mengawali setiap episode hidup kita dengan niat karena Allah semata, yang tak henti memperbarui niat kita selama 'perjalanan', juga memurnikan niat di akhir setiap 'kisah'. Aamiin...


[*] versi lengkapnya :
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Arti Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)